https://www.histats.com

Rabu, 16 Juli 2025

Ambon, Nirwana di Ujung Timur (Bagian 2 dari 2)

 

“AMBON DAN KENANGAN YANG TAK PERNAH TENGGELAM”

Kisah Seorang Mahasiswa Kehutanan Universitas Pattimura



Tenggelam di Teluk, Diselamatkan oleh Tawa Anak-Anak

Ambon malam itu begitu tenang, seperti biasa. Saya bersama seorang teman kampus baru saja membeli koran dan beberapa bahan tugas kampus. Daripada menunggu lama naik kapal ferry, kami memilih menyeberang menggunakan perahu layar. Ada dua jenis perahu penyeberangan tradisonal di Teluk Ambon, yaitu perahu dengan layar dan perahu tanpa layar. 

Awalnya, perjalanan terasa biasa. Suara air yang menampar lunak dinding perahu, langit yang gelap tetapi damai. Namun, takdir sepertinya sedang ingin bercanda. Hujan turun tiba-tiba, diiringi angin yang menggila. Perahu kecil kami melaju kencang, seolah jadi speedboat dadakan.

Pengemudi perahu tetap tenang—terlalu tenang malah. Dan tiba-tiba… brrrrruuuk! Perahu terbalik. Saya refleks mengangkat koran agar tak basah. Aneh, di tengah panik, saya masih sempat memikirkan sendal jepit baru yang hanyut terbawa ombak.

Perahu tak tenggelam, hanya terbalik sempurna. Kami bertahan, bergelayut di tubuhnya. Gelap makin pekat, waktu sudah menunjukkan lewat pukul 10 malam. Tidak ada tanda pertolongan, tidak ada perahu lain. Hanya dingin, gelap, dan harapan yang mulai kabur.

Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara anak-anak. Rupanya mereka sedang bermain hujan di tepi pantai. Kami berteriak—sekuat tenaga. Mereka datang, menaiki perahu kecil seadanya. Anak-anak itulah yang menjadi malaikat malam itu, menolong kami kembali ke darat, ke Rumah Tiga.

Besoknya saya tak masuk kuliah. Tapi tentu saja, teman saya yang usil menyebarkan kabar: “Eh, teman kita tenggelam kemarin, sekarang di kos diperban sekujur tubuh!” Jadi bahan tawa seminggu penuh.

 

Ikan Asap dan Dunia yang Terbalik

Ikan asap. Kadang juga disebut ikan asar. Biasanya makanan spesial anak kos. Ikan tongkol bakar, sambal dabu-dabu, nasi hangat. Hidangan mewah bagi dompet mahasiswa.

Tapi tidak malam itu. Lidah terasa gatal, pertanda bahaya. Kami baru sadar setelah makanan habis. Esok paginya, saat mengikuti kuliah, kepala saya mulai berat, dunia tampak berputar.

Saya izin pulang. Jalan kaki menelusuri kampus, melewati stadion yang saat itu sedang dibangun. Stadion itu tampak seperti jungkir balik. Sampai di kos, saya tumbang. Pusing bukan main.

Usai kuliah, teman-teman datang menjenguk. Membawa buah, makanan, bahkan minyak kayu putih. Rasa sakit perlahan reda, tapi rasa syukur atas sahabat yang peduli begitu besar. Di tanah rantau, keluarga bisa hadir dalam bentuk teman.

 

Rp5.000 : Indomie dan Rokok Batangan

Ada masa kami semua kehabisan uang. Kiriman belum datang, ATM belum umum, dan warung makan terasa seperti hotel bintang lima.

Kami mengumpulkan sisa receh. Totalnya hanya Rp5.000. Tapi dengan itu kami beli Indomie, kue pasar, dan… rokok batangan. Ya, prioritas hidup kadang tak masuk akal.

Tapi begitulah kehidupan di kos: satu piring ramai-ramai, satu gelas untuk tiga orang, dan satu batang rokok dibagi dua. Bukan soal makanan, tapi soal rasa cukup dan kebersamaan.

 

Debat Politik, Tapi Tetap Satu Ranjang

Fakultas Pertanian Universitas Pattimura saat itu sedang ramai. Pemilihan ketua komisariat Jimpunan Mahasiswa Islam (HMI) penuh ketegangan. Suasana memanas, bahkan sempat deadlock dan diambil alih oleh cabang.

Tapi anehnya, meski kami berdebat keras di ruang sidang, kami tetap pulang bareng ke kos. Tidur bareng, makan bareng. Hari ini lawan debat, malamnya rebutan kasur. Yang kalah cepat, tidur di lantai.

Solidaritas kami terlalu kuat untuk dipecah hanya karena beda pilihan. Perbedaan tak menghapus persaudaraan. Kami tahu, perjuangan tak pernah lebih penting dari persahabatan.

 

Kopi Tanpa Gula, Tapi Penuh Tawa

Kos kami bukan tempat biasa. Kadang hanya bermodalkan sendok dan gelas kosong, kami keliling mencari gula, kopi, dan air panas. Ritual pagi dimulai dari pencarian bahan dasar, dan selesai dengan cangkir-cangkir penuh tawa.

Tak ada HP, tak ada medsos. Janjian ketemu ya harus ditepati. Nongkrong bukan soal kuota, tapi soal komitmen.

 

Catatan Penutup

Cerita-cerita ini adalah potret kecil kehidupan mahasiswa rantau di era 90-an, saat teknologi belum menguasai hidup, dan persahabatan adalah harta paling mewah. Mereka mungkin tak punya banyak uang, tapi punya kenangan yang tak bisa dibeli.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolong jangan memberikan komentar yang menyudutkan, agitasi ataupun berbau ras.. Terima Kasih. -NS-

SAYA LAZIALE (Bagian 3 dari 3)

  Elang Tidak Butuh Kerumunan Cinta itu tumbuh makin dalam ketika Lazio diasuh oleh Simone Inzaghi—mantan pemain, legenda, dan Laziale sej...