Langit Biru di Antara Deretan Merah, Hitam, Biru..
Ditengah gegap gempita fans AC Milan, Inter, atau Juventus, aku memilih jalanku sendiri: menjadi seorang Laziale—sebutan untuk fans Lazio. Bukan karena prestasi atau piala yang mengkilap, bukan karena barisan pemain bintang yang digilai dunia. Aku jatuh cinta karena alasan yang sederhana: warna biru langit dan lambang seekor burung elang di dada. Dan, sebutan Biancoceleste – si putih biru langit - yang begitu menggoda telinga saat mendengarnya.
Tahun 1999, aku masih mahasiswa. Setiap akhir pekan kami
berkumpul di depan tv di ruang kosan, menyaksikan Serie A di RCTI. Teriakan
teman-teman menyambut gol Shevchenko, Del Piero, atau Ronaldo Nazário,
sementara aku... duduk tenang, berharap nama Salas atau Verón muncul di layar.
Hanya aku dan satu teman lain yang Laziale—dua di antara puluhan penghuni kos
lainnya, yang mengenakan lambang elang itu dengan bangga.
Mereka sering meledek kami, setengah bercanda, “Tim mana
itu? Lazio? Baru dengar.” Tapi entah kenapa, ledekan itu tak pernah
menggoyahkan hatiku. Karena menjadi Laziale bukan sekadar mendukung tim—itu
adalah bentuk kesetiaan. Dan kesetiaan itu diuji bukan saat menang, tapi saat
kalah dan terus kalah.
Aku ingat hari ketika Lazio akhirnya menjuarai Serie A tahun
2000. Kami melonjak kegirangan. Ya sangat girang. Nama-nama seperti Nesta,
Simeone, Mihajlović, Verón, Nedvěd, Salas, Boksic, dan sang kapten Alessandro
Nesta menjadi pujaan. Di bawah bimbingan pelatih elegan Sven-Goran Eriksson dan
kepemimpinan presiden flamboyan Sergio Cragnotti, kami hidup dalam mimpi yang
terlalu indah untuk dilupakan.
Itu adalah masa emas. Tapi tidak lama. Meski demikian, biru
langit akan terus berjuang.. Jangan pernah menyerah. Non Mollare Mai…
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolong jangan memberikan komentar yang menyudutkan, agitasi ataupun berbau ras.. Terima Kasih. -NS-