https://www.histats.com

Minggu, 20 Juli 2025

SAYA LAZIALE (BAGIAN 1 DARI 3)

 

Langit Biru di Antara Deretan Merah, Hitam, Biru..

Ditengah gegap gempita fans AC Milan, Inter, atau Juventus, aku memilih jalanku sendiri: menjadi seorang Laziale—sebutan untuk fans Lazio. Bukan karena prestasi atau piala yang mengkilap, bukan karena barisan pemain bintang yang digilai dunia. Aku jatuh cinta karena alasan yang sederhana: warna biru langit dan lambang seekor burung elang di dada. Dan, sebutan Biancoceleste – si putih biru langit - yang begitu menggoda telinga saat mendengarnya.

Tahun 1999, aku masih mahasiswa. Setiap akhir pekan kami berkumpul di depan tv di ruang kosan, menyaksikan Serie A di RCTI. Teriakan teman-teman menyambut gol Shevchenko, Del Piero, atau Ronaldo Nazário, sementara aku... duduk tenang, berharap nama Salas atau Verón muncul di layar. Hanya aku dan satu teman lain yang Laziale—dua di antara puluhan penghuni kos lainnya, yang mengenakan lambang elang itu dengan bangga.

Mereka sering meledek kami, setengah bercanda, “Tim mana itu? Lazio? Baru dengar.” Tapi entah kenapa, ledekan itu tak pernah menggoyahkan hatiku. Karena menjadi Laziale bukan sekadar mendukung tim—itu adalah bentuk kesetiaan. Dan kesetiaan itu diuji bukan saat menang, tapi saat kalah dan terus kalah.

Aku ingat hari ketika Lazio akhirnya menjuarai Serie A tahun 2000. Kami melonjak kegirangan. Ya sangat girang. Nama-nama seperti Nesta, Simeone, Mihajlović, Verón, Nedvěd, Salas, Boksic, dan sang kapten Alessandro Nesta menjadi pujaan. Di bawah bimbingan pelatih elegan Sven-Goran Eriksson dan kepemimpinan presiden flamboyan Sergio Cragnotti, kami hidup dalam mimpi yang terlalu indah untuk dilupakan.

Itu adalah masa emas. Tapi tidak lama. Meski demikian, biru langit akan terus berjuang.. Jangan pernah menyerah. Non Mollare Mai…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolong jangan memberikan komentar yang menyudutkan, agitasi ataupun berbau ras.. Terima Kasih. -NS-

SAYA LAZIALE (Bagian 3 dari 3)

  Elang Tidak Butuh Kerumunan Cinta itu tumbuh makin dalam ketika Lazio diasuh oleh Simone Inzaghi—mantan pemain, legenda, dan Laziale sej...