https://www.histats.com

Rabu, 16 Juli 2025

"Dalam Nama Gandong: Catatan Seorang Mahasiswa di Tengah Konflik" (Bagian 3 dari 3)

 

Bagian 3 : PULANG LEWAT LUKA

Diantara Reruntuhan dan Doa yang Tak Putus

Setelah dua minggu terjebak dalam konflik, akhirnya jalur transportasi mulai terbuka. Sebagian angkutan umum berani beroperasi meski masih penuh risiko. Saya memutuskan kembali ke Rumah Tiga, desa kecil di tepi Teluk Ambon, dekat kampus Universitas Pattimura. Tempat ini yang awalnya terasa damai dan tenang, kini menyimpan misteri penuh ketidakpastian.

Masjid At-Taqwa menjadi pusat pertahanan komunitas Muslim di sana. Mungkin hanya sekitar 20-30 rumah Muslim di tengah mayoritas non-Muslim. Setiap malam, kami naik ke lantai masjid paling atas. Bukan untuk menikmati pemandangan malam Ambon yang indah, tapi untuk berjaga, memantau, mendengar, dan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Tidur pun bergantian. Yang satu tidur, yang lain berjaga dengan parang di tangan. Tak ada malam yang tenang. Ketegangan menggantung di udara.

Tak jauh dari sana, berdiri Markas Denzipur (Detasemen Zeni Tempur TNI AD). Tempat ini jadi lokasi pengungsian tercampur: Muslim dan Kristen, dalam satu gedung. Tapi ketegangan tetap terasa. Di balik tempat tidur para pengungsi yang hampir seluruhnya adalah lansia, ibu-ibu, perempuan, dan anak-anak, ada bisik-bisik saling menyalahkan.

“Mereka yang mulai...”

“Tidak, kalian yang duluan...”

Di sini, saya belajar satu hal: damai itu bukan sekadar tenang di luar, tapi juga menerima luka masing-masing. Dan luka-luka itu, ternyata dalam.

 

Ambon: Kota Pela Gandong yang Terkoyak

Dulu kami sering mendengar cerita indah tentang pela gandong. Tentang dua desa dari agama berbeda yang saling mengangkat satu sama lain sebagai saudara. Bila satu desa berduka, desa pela-nya ikut berduka. Bila satu desa menikah, desa pela-nya ikut merayakan.
Tak ada perbedaan. Tak ada batas. Karena dalam pela, Muslim dan Kristen adalah gandong—saudara kandung dari rahim berbeda.

Masyarakat di sana tumbuh dalam suasana seperti itu. Bertetangga tanpa curiga, berteman tanpa prasangka. Bahkan, dalam momen Hari Raya, warga saling berkunjung. Setiap Lebaran, rumah tetangga Kristen ikut menghias dengan ketupat dan lampu hias, demikian pula sebaliknya.

Maka saat kerusuhan pecah, saya sempat tidak percaya.

“Bagaimana bisa kita saling membakar rumah dan saling mengusir, padahal kita gandong?”

Jawabannya, barangkali, ada pada provokasi yang pelan-pelan menyusup, seperti racun dalam air. Ketimpangan ekonomi. Beredarnya rumor tentang kecemburuan pada kelompok BBM (Bugis, Buton, Makassar) yang menguasai perdagangan. Para provokator yang bergerak dengan tujuan tertentu, telah mencapai hasilnya. Dan kita, rakyat biasa, jadi korban.

Kembali terngiang lirik lagu yang sangat familiar : ”hidup ade deng kaka. Sungguh manis lawange. Ale rasa beta rasa… katong dua satu gandong”

 

Di Atas Geladak Kapal PELNI

Setelah semua itu, akhirnya saya dan ribuan orang lainnya mendapat kesempatan meninggalkan Ambon. Kapal PELNI bersandar di pelabuhan. Penuh sesak. Tangga kapal seakan tidak muat untuk menampung penumpang yang berdesakan. Bahkan, ada yang naik ke kapal melalui tali jangkar. Bergelantungan. Bau peluh dan tangis bercampur di dek kapal. Tidak semua orang mendapat tempat duduk. Banyak yang tidur di bawah, di lorong, di samping toilet. Tapi tak satu pun yang mengeluh. Kami hanya ingin selamat.

Saya berdiri di pinggir kapal, menatap Ambon yang perlahan menjauh. Kota itu tampak indah dari kejauhan. Seperti tak terjadi apa-apa. Tapi saya tahu, di balik bukit dan rumah-rumah itu, banyak luka yang belum sempat diobati.

Dan saya bertanya dalam hati:

“Apakah pela gandong akan kembali hidup? Apakah kita bisa bertetangga tanpa takut lagi?
Atau apakah kita akan terus saling curiga, hanya karena berbeda nama dan keyakinan?”

 

Penutup : Catatan Hati

Tahun 1999 adalah tahun yang tak akan saya lupakan. Bukan hanya karena saya hampir kehilangan adik perempuan saya. Bukan hanya karena saya harus tidur di jalan atau menghindari panah dan tombak. Tapi karena saya menyaksikan sendiri, betapa mudah kedamaian berubah menjadi kebencian, bila kita berhenti saling menjaga antar sesama.

Tapi saya percaya satu hal: Pela gandong belum mati. Ia hanya luka. Dan semua yang luka, bisa sembuh—asal kita mau memulainya dengan saling percaya, sekali lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolong jangan memberikan komentar yang menyudutkan, agitasi ataupun berbau ras.. Terima Kasih. -NS-

SAYA LAZIALE (Bagian 3 dari 3)

  Elang Tidak Butuh Kerumunan Cinta itu tumbuh makin dalam ketika Lazio diasuh oleh Simone Inzaghi—mantan pemain, legenda, dan Laziale sej...