Bagian 3 : PULANG LEWAT LUKA
Diantara Reruntuhan dan Doa
yang Tak Putus
Setelah dua minggu terjebak dalam
konflik, akhirnya jalur transportasi mulai terbuka. Sebagian angkutan umum
berani beroperasi meski masih penuh risiko. Saya memutuskan kembali ke Rumah
Tiga, desa kecil di tepi Teluk Ambon, dekat kampus Universitas Pattimura.
Tempat ini yang awalnya terasa damai dan tenang, kini menyimpan misteri penuh ketidakpastian.
Masjid At-Taqwa menjadi pusat
pertahanan komunitas Muslim di sana. Mungkin hanya sekitar 20-30 rumah Muslim
di tengah mayoritas non-Muslim. Setiap malam, kami naik ke lantai masjid paling
atas. Bukan untuk menikmati pemandangan malam Ambon yang indah, tapi untuk berjaga,
memantau, mendengar, dan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Tidur pun
bergantian. Yang satu tidur, yang lain berjaga dengan parang di tangan. Tak ada
malam yang tenang. Ketegangan menggantung di udara.
Tak jauh dari sana, berdiri Markas Denzipur (Detasemen Zeni Tempur TNI AD). Tempat ini jadi lokasi pengungsian tercampur:
Muslim dan Kristen, dalam satu gedung. Tapi ketegangan tetap terasa. Di balik tempat tidur para pengungsi yang
hampir seluruhnya adalah lansia, ibu-ibu, perempuan, dan anak-anak, ada bisik-bisik
saling menyalahkan.
“Mereka yang mulai...”
“Tidak, kalian yang duluan...”
Di sini, saya belajar satu hal: damai
itu bukan sekadar tenang di luar, tapi juga menerima luka masing-masing. Dan
luka-luka itu, ternyata dalam.
Ambon: Kota Pela Gandong
yang Terkoyak
Dulu kami sering mendengar cerita
indah tentang pela gandong. Tentang dua desa dari agama berbeda yang
saling mengangkat satu sama lain sebagai saudara. Bila satu desa berduka, desa
pela-nya ikut berduka. Bila satu desa menikah, desa pela-nya ikut merayakan.
Tak ada perbedaan. Tak ada batas. Karena dalam pela, Muslim dan Kristen adalah
gandong—saudara kandung dari rahim berbeda.
Masyarakat di sana tumbuh dalam
suasana seperti itu. Bertetangga tanpa curiga, berteman tanpa prasangka.
Bahkan, dalam momen Hari Raya, warga saling berkunjung. Setiap Lebaran, rumah
tetangga Kristen ikut menghias dengan ketupat dan lampu hias, demikian pula
sebaliknya.
Maka saat kerusuhan pecah, saya
sempat tidak percaya.
“Bagaimana bisa kita saling
membakar rumah dan saling mengusir, padahal kita gandong?”
Jawabannya, barangkali, ada pada provokasi
yang pelan-pelan menyusup, seperti racun dalam air. Ketimpangan ekonomi. Beredarnya
rumor tentang kecemburuan pada kelompok BBM (Bugis, Buton, Makassar) yang
menguasai perdagangan. Para provokator yang bergerak dengan tujuan tertentu, telah
mencapai hasilnya. Dan kita, rakyat biasa, jadi korban.
Kembali terngiang lirik lagu yang
sangat familiar : ”hidup ade deng kaka. Sungguh manis lawange. Ale rasa
beta rasa… katong dua satu gandong”
Di Atas Geladak Kapal PELNI
Setelah semua itu, akhirnya saya
dan ribuan orang lainnya mendapat kesempatan meninggalkan Ambon. Kapal PELNI
bersandar di pelabuhan. Penuh sesak. Tangga kapal seakan tidak muat untuk
menampung penumpang yang berdesakan. Bahkan, ada yang naik ke kapal melalui
tali jangkar. Bergelantungan. Bau peluh dan tangis bercampur di dek kapal.
Tidak semua orang mendapat tempat duduk. Banyak yang tidur di bawah, di lorong,
di samping toilet. Tapi tak satu pun yang mengeluh. Kami hanya ingin selamat.
Saya berdiri di pinggir kapal,
menatap Ambon yang perlahan menjauh. Kota itu tampak indah dari kejauhan.
Seperti tak terjadi apa-apa. Tapi saya tahu, di balik bukit dan rumah-rumah
itu, banyak luka yang belum sempat diobati.
Dan saya bertanya dalam hati:
“Apakah pela gandong akan kembali
hidup? Apakah kita bisa bertetangga tanpa takut lagi?
Atau apakah kita akan terus saling curiga, hanya karena berbeda nama dan
keyakinan?”
Penutup : Catatan Hati
Tahun 1999 adalah tahun yang tak
akan saya lupakan. Bukan hanya karena saya hampir kehilangan adik perempuan
saya. Bukan hanya karena saya harus tidur di jalan atau menghindari panah dan
tombak. Tapi karena saya menyaksikan sendiri, betapa mudah kedamaian berubah
menjadi kebencian, bila kita berhenti saling menjaga antar sesama.
Tapi saya percaya satu hal: Pela
gandong belum mati. Ia hanya luka. Dan semua yang luka, bisa sembuh—asal
kita mau memulainya dengan saling percaya, sekali lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolong jangan memberikan komentar yang menyudutkan, agitasi ataupun berbau ras.. Terima Kasih. -NS-