“AMBON DAN KENANGAN
YANG TAK PERNAH TENGGELAM”
Kisah Seorang Mahasiswa Kehutanan Universitas Pattimura
Tenggelam
di Teluk, Diselamatkan oleh Tawa Anak-Anak
Ambon malam itu begitu
tenang, seperti biasa. Saya bersama seorang teman kampus baru saja membeli
koran dan beberapa bahan tugas kampus. Daripada menunggu lama naik kapal ferry,
kami memilih menyeberang menggunakan perahu layar. Ada dua jenis perahu penyeberangan tradisonal di Teluk Ambon, yaitu perahu dengan layar dan perahu tanpa layar.
Awalnya, perjalanan
terasa biasa. Suara air yang menampar lunak dinding perahu, langit yang gelap
tetapi damai. Namun, takdir sepertinya sedang ingin bercanda. Hujan turun
tiba-tiba, diiringi angin yang menggila. Perahu kecil kami melaju kencang,
seolah jadi speedboat dadakan.
Pengemudi perahu tetap
tenang—terlalu tenang malah. Dan tiba-tiba… brrrrruuuk! Perahu terbalik.
Saya refleks mengangkat koran agar tak basah. Aneh, di tengah panik, saya masih
sempat memikirkan sendal jepit baru yang hanyut terbawa ombak.
Perahu tak tenggelam,
hanya terbalik sempurna. Kami bertahan, bergelayut di tubuhnya. Gelap makin
pekat, waktu sudah menunjukkan lewat pukul 10 malam. Tidak ada tanda pertolongan,
tidak ada perahu lain. Hanya dingin, gelap, dan harapan yang mulai kabur.
Tiba-tiba, dari
kejauhan, terdengar suara anak-anak. Rupanya mereka sedang bermain hujan di
tepi pantai. Kami berteriak—sekuat tenaga. Mereka datang, menaiki perahu kecil
seadanya. Anak-anak itulah yang menjadi malaikat malam itu, menolong kami
kembali ke darat, ke Rumah Tiga.
Besoknya saya tak masuk
kuliah. Tapi tentu saja, teman saya yang usil menyebarkan kabar: “Eh, teman kita tenggelam kemarin, sekarang di kos diperban sekujur tubuh!” Jadi bahan tawa
seminggu penuh.
Ikan Asap
dan Dunia yang Terbalik
Ikan asap. Kadang juga disebut ikan asar. Biasanya
makanan spesial anak kos. Ikan tongkol bakar, sambal dabu-dabu, nasi hangat.
Hidangan mewah bagi dompet mahasiswa.
Tapi tidak malam itu.
Lidah terasa gatal, pertanda bahaya. Kami baru sadar setelah makanan habis.
Esok paginya, saat mengikuti kuliah, kepala saya mulai berat, dunia tampak
berputar.
Saya izin pulang. Jalan
kaki menelusuri kampus, melewati stadion yang saat itu sedang dibangun. Stadion
itu tampak seperti jungkir balik. Sampai di kos, saya tumbang. Pusing bukan
main.
Usai kuliah, teman-teman
datang menjenguk. Membawa buah, makanan, bahkan minyak kayu putih. Rasa sakit
perlahan reda, tapi rasa syukur atas sahabat yang peduli begitu besar. Di tanah
rantau, keluarga bisa hadir dalam bentuk teman.
Rp5.000 : Indomie dan Rokok Batangan
Ada masa kami semua
kehabisan uang. Kiriman belum datang, ATM belum umum, dan warung makan terasa
seperti hotel bintang lima.
Kami mengumpulkan sisa
receh. Totalnya hanya Rp5.000. Tapi dengan itu kami beli Indomie, kue pasar,
dan… rokok batangan. Ya, prioritas hidup kadang tak masuk akal.
Tapi begitulah kehidupan
di kos: satu piring ramai-ramai, satu gelas untuk tiga orang, dan satu batang
rokok dibagi dua. Bukan soal makanan, tapi soal rasa cukup dan kebersamaan.
Debat
Politik, Tapi Tetap Satu Ranjang
Fakultas Pertanian Universitas Pattimura saat itu sedang ramai. Pemilihan ketua komisariat Jimpunan Mahasiswa Islam (HMI) penuh ketegangan. Suasana
memanas, bahkan sempat deadlock dan diambil alih oleh cabang.
Tapi anehnya, meski kami
berdebat keras di ruang sidang, kami tetap pulang bareng ke kos. Tidur bareng,
makan bareng. Hari ini lawan debat, malamnya rebutan kasur. Yang kalah cepat,
tidur di lantai.
Solidaritas kami terlalu
kuat untuk dipecah hanya karena beda pilihan. Perbedaan tak menghapus
persaudaraan. Kami tahu, perjuangan tak pernah lebih penting dari persahabatan.
Kopi Tanpa
Gula, Tapi Penuh Tawa
Kos kami bukan tempat
biasa. Kadang hanya bermodalkan sendok dan gelas kosong, kami keliling mencari
gula, kopi, dan air panas. Ritual pagi dimulai dari pencarian bahan dasar, dan
selesai dengan cangkir-cangkir penuh tawa.
Tak ada HP, tak ada
medsos. Janjian ketemu ya harus ditepati. Nongkrong bukan soal kuota, tapi soal
komitmen.
Catatan Penutup
Cerita-cerita ini adalah
potret kecil kehidupan mahasiswa rantau di era 90-an, saat teknologi belum
menguasai hidup, dan persahabatan adalah harta paling mewah. Mereka mungkin tak
punya banyak uang, tapi punya kenangan yang tak bisa dibeli.