https://www.histats.com

Minggu, 20 Juli 2025

SAYA LAZIALE (Bagian 3 dari 3)

 

Elang Tidak Butuh Kerumunan

Cinta itu tumbuh makin dalam ketika Lazio diasuh oleh Simone Inzaghi—mantan pemain, legenda, dan Laziale sejati. Ia tidak hanya melatih, ia membawa ruh elang ke ruang ganti. Dari tim muda hingga tim utama, ia membangun kembali semangat yang sempat pudar. Lazio bangkit perlahan. Bukan untuk menjadi yang terbaik, tapi menjadi yang paling bermakna.

Dan kami, para Laziale, tetap setia. Setiap pertandingan adalah senam jantung sehat.” Setiap gol membawa air mata. Setiap poin berarti lebih dari angka di klasemen.

Bagi fans klub besar, gelar juara mungkin biasa. Bagi kami, satu trofi bisa dirayakan seperti Piala Dunia.

Menjadi Laziale adalah pilihan jiwa. Kami tidak memilih yang paling mudah. Kami memilih yang paling tulus. Sebagai sesama Laziale, ke mana pun kamu pergi, kamu tidak akan pernah sendiri. Karena di mana ada Biancoceleste, di situ ada keluarga.

Di dunia yang gemerlap dan penuh pencitraan, menjadi fans Lazio mengajarkan satu hal penting: kesetiaan adalah bentuk cinta paling murni. Kami tidak menunggu kemenangan untuk bangga. Kami bangga karena kami tetap berdiri, meski badai datang bertubi.

Aku mungkin bukan siapa-siapa di dunia sepak bola. Tapi aku tahu satu hal pasti: aku Laziale. Dan akan selalu begitu.

Forza Lazio!

SAYA LAZIALE (Bagian 2 dari 3)

 

Laziale Tak Pernah Sendiri


Waktu berjalan. Lazio tak lagi segarang dulu. Finansial goyah, pemain bintang pergi. Tapi yang mengejutkan, banyak yang tetap tinggal. Laziale bertambah, bukan berkurang. Meskipun mungkin saja telah banyak yang mendua hati, tapi kecintaan terhadap Lazio tak pernah pergi.  Di bandara, stasiun, atau jalanan mana pun di Indonesia, jika bertemu seseorang dengan syal Lazio, ada senyum yang sama. Ada sapa hangat, bahkan tak jarang pertukaran nomor ponsel.

“Bro, Laziale juga ya?”

Dan obrolan panjang pun dimulai, seolah kami sudah bersaudara sejak lama.

Bukan hal yang mudah mendapat atribut Lazio. Tak seperti di era kejayaan, saat atribut Lazio ada dimana-mana. Kini, topi, syal, atau jersey resmi biasanya kami pesan dari komunitas atau pesan dari kawan yang sering membuat atribut lazio. Maka, siapa pun yang memakai atribut Lazio, sudah pasti dia bukan fans abal-abal. Dan itu cukup jadi alasan untuk menyapa.

Kalau mau ke kota lain, cukup umumkan di grup di media sosial. Laziale setempat akan menjemput, menemani, bahkan kadang mengantar pulang dengan oleh-oleh. Kami bukan hanya fans klub, kami keluarga. Begitu pula sebaliknya, jika ada Laziale yang berkunjung ke koaku, akan kuusahakan untuk menyambut dan menemani.

Gathering jadi agenda rutin: dari yang nasional hingga wilayah. Menjadi ajang bertemu, tertawa, nonton bareng, berbagi kisah dan koleksi. Bukan tentang menang atau kalah, tapi soal bagaimana kita tetap setia meski tertatih.

Dan ada satu hal yang membuat kami tetap bangga: kami tahu rasanya menjadi bagian dari perjuangan kecil, meski bukan dominasi besar. Lazio selalu di hati, Sang elang tak akan dibiarkan terbang sendirian. I tifosi biancocelesti sono molto fedeli. Tu non sarai mai sola..


SAYA LAZIALE (BAGIAN 1 DARI 3)

 

Langit Biru di Antara Deretan Merah, Hitam, Biru..

Ditengah gegap gempita fans AC Milan, Inter, atau Juventus, aku memilih jalanku sendiri: menjadi seorang Laziale—sebutan untuk fans Lazio. Bukan karena prestasi atau piala yang mengkilap, bukan karena barisan pemain bintang yang digilai dunia. Aku jatuh cinta karena alasan yang sederhana: warna biru langit dan lambang seekor burung elang di dada. Dan, sebutan Biancoceleste – si putih biru langit - yang begitu menggoda telinga saat mendengarnya.

Tahun 1999, aku masih mahasiswa. Setiap akhir pekan kami berkumpul di depan tv di ruang kosan, menyaksikan Serie A di RCTI. Teriakan teman-teman menyambut gol Shevchenko, Del Piero, atau Ronaldo Nazário, sementara aku... duduk tenang, berharap nama Salas atau Verón muncul di layar. Hanya aku dan satu teman lain yang Laziale—dua di antara puluhan penghuni kos lainnya, yang mengenakan lambang elang itu dengan bangga.

Mereka sering meledek kami, setengah bercanda, “Tim mana itu? Lazio? Baru dengar.” Tapi entah kenapa, ledekan itu tak pernah menggoyahkan hatiku. Karena menjadi Laziale bukan sekadar mendukung tim—itu adalah bentuk kesetiaan. Dan kesetiaan itu diuji bukan saat menang, tapi saat kalah dan terus kalah.

Aku ingat hari ketika Lazio akhirnya menjuarai Serie A tahun 2000. Kami melonjak kegirangan. Ya sangat girang. Nama-nama seperti Nesta, Simeone, Mihajlović, Verón, Nedvěd, Salas, Boksic, dan sang kapten Alessandro Nesta menjadi pujaan. Di bawah bimbingan pelatih elegan Sven-Goran Eriksson dan kepemimpinan presiden flamboyan Sergio Cragnotti, kami hidup dalam mimpi yang terlalu indah untuk dilupakan.

Itu adalah masa emas. Tapi tidak lama. Meski demikian, biru langit akan terus berjuang.. Jangan pernah menyerah. Non Mollare Mai…

Rabu, 16 Juli 2025

Ambon, Nirwana di Ujung Timur (Bagian 2 dari 2)

 

“AMBON DAN KENANGAN YANG TAK PERNAH TENGGELAM”

Kisah Seorang Mahasiswa Kehutanan Universitas Pattimura



Tenggelam di Teluk, Diselamatkan oleh Tawa Anak-Anak

Ambon malam itu begitu tenang, seperti biasa. Saya bersama seorang teman kampus baru saja membeli koran dan beberapa bahan tugas kampus. Daripada menunggu lama naik kapal ferry, kami memilih menyeberang menggunakan perahu layar. Ada dua jenis perahu penyeberangan tradisonal di Teluk Ambon, yaitu perahu dengan layar dan perahu tanpa layar. 

Awalnya, perjalanan terasa biasa. Suara air yang menampar lunak dinding perahu, langit yang gelap tetapi damai. Namun, takdir sepertinya sedang ingin bercanda. Hujan turun tiba-tiba, diiringi angin yang menggila. Perahu kecil kami melaju kencang, seolah jadi speedboat dadakan.

Pengemudi perahu tetap tenang—terlalu tenang malah. Dan tiba-tiba… brrrrruuuk! Perahu terbalik. Saya refleks mengangkat koran agar tak basah. Aneh, di tengah panik, saya masih sempat memikirkan sendal jepit baru yang hanyut terbawa ombak.

Perahu tak tenggelam, hanya terbalik sempurna. Kami bertahan, bergelayut di tubuhnya. Gelap makin pekat, waktu sudah menunjukkan lewat pukul 10 malam. Tidak ada tanda pertolongan, tidak ada perahu lain. Hanya dingin, gelap, dan harapan yang mulai kabur.

Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara anak-anak. Rupanya mereka sedang bermain hujan di tepi pantai. Kami berteriak—sekuat tenaga. Mereka datang, menaiki perahu kecil seadanya. Anak-anak itulah yang menjadi malaikat malam itu, menolong kami kembali ke darat, ke Rumah Tiga.

Besoknya saya tak masuk kuliah. Tapi tentu saja, teman saya yang usil menyebarkan kabar: “Eh, teman kita tenggelam kemarin, sekarang di kos diperban sekujur tubuh!” Jadi bahan tawa seminggu penuh.

 

Ikan Asap dan Dunia yang Terbalik

Ikan asap. Kadang juga disebut ikan asar. Biasanya makanan spesial anak kos. Ikan tongkol bakar, sambal dabu-dabu, nasi hangat. Hidangan mewah bagi dompet mahasiswa.

Tapi tidak malam itu. Lidah terasa gatal, pertanda bahaya. Kami baru sadar setelah makanan habis. Esok paginya, saat mengikuti kuliah, kepala saya mulai berat, dunia tampak berputar.

Saya izin pulang. Jalan kaki menelusuri kampus, melewati stadion yang saat itu sedang dibangun. Stadion itu tampak seperti jungkir balik. Sampai di kos, saya tumbang. Pusing bukan main.

Usai kuliah, teman-teman datang menjenguk. Membawa buah, makanan, bahkan minyak kayu putih. Rasa sakit perlahan reda, tapi rasa syukur atas sahabat yang peduli begitu besar. Di tanah rantau, keluarga bisa hadir dalam bentuk teman.

 

Rp5.000 : Indomie dan Rokok Batangan

Ada masa kami semua kehabisan uang. Kiriman belum datang, ATM belum umum, dan warung makan terasa seperti hotel bintang lima.

Kami mengumpulkan sisa receh. Totalnya hanya Rp5.000. Tapi dengan itu kami beli Indomie, kue pasar, dan… rokok batangan. Ya, prioritas hidup kadang tak masuk akal.

Tapi begitulah kehidupan di kos: satu piring ramai-ramai, satu gelas untuk tiga orang, dan satu batang rokok dibagi dua. Bukan soal makanan, tapi soal rasa cukup dan kebersamaan.

 

Debat Politik, Tapi Tetap Satu Ranjang

Fakultas Pertanian Universitas Pattimura saat itu sedang ramai. Pemilihan ketua komisariat Jimpunan Mahasiswa Islam (HMI) penuh ketegangan. Suasana memanas, bahkan sempat deadlock dan diambil alih oleh cabang.

Tapi anehnya, meski kami berdebat keras di ruang sidang, kami tetap pulang bareng ke kos. Tidur bareng, makan bareng. Hari ini lawan debat, malamnya rebutan kasur. Yang kalah cepat, tidur di lantai.

Solidaritas kami terlalu kuat untuk dipecah hanya karena beda pilihan. Perbedaan tak menghapus persaudaraan. Kami tahu, perjuangan tak pernah lebih penting dari persahabatan.

 

Kopi Tanpa Gula, Tapi Penuh Tawa

Kos kami bukan tempat biasa. Kadang hanya bermodalkan sendok dan gelas kosong, kami keliling mencari gula, kopi, dan air panas. Ritual pagi dimulai dari pencarian bahan dasar, dan selesai dengan cangkir-cangkir penuh tawa.

Tak ada HP, tak ada medsos. Janjian ketemu ya harus ditepati. Nongkrong bukan soal kuota, tapi soal komitmen.

 

Catatan Penutup

Cerita-cerita ini adalah potret kecil kehidupan mahasiswa rantau di era 90-an, saat teknologi belum menguasai hidup, dan persahabatan adalah harta paling mewah. Mereka mungkin tak punya banyak uang, tapi punya kenangan yang tak bisa dibeli.


"Dalam Nama Gandong: Catatan Seorang Mahasiswa di Tengah Konflik" (Bagian 3 dari 3)

 

Bagian 3 : PULANG LEWAT LUKA

Diantara Reruntuhan dan Doa yang Tak Putus

Setelah dua minggu terjebak dalam konflik, akhirnya jalur transportasi mulai terbuka. Sebagian angkutan umum berani beroperasi meski masih penuh risiko. Saya memutuskan kembali ke Rumah Tiga, desa kecil di tepi Teluk Ambon, dekat kampus Universitas Pattimura. Tempat ini yang awalnya terasa damai dan tenang, kini menyimpan misteri penuh ketidakpastian.

Masjid At-Taqwa menjadi pusat pertahanan komunitas Muslim di sana. Mungkin hanya sekitar 20-30 rumah Muslim di tengah mayoritas non-Muslim. Setiap malam, kami naik ke lantai masjid paling atas. Bukan untuk menikmati pemandangan malam Ambon yang indah, tapi untuk berjaga, memantau, mendengar, dan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Tidur pun bergantian. Yang satu tidur, yang lain berjaga dengan parang di tangan. Tak ada malam yang tenang. Ketegangan menggantung di udara.

Tak jauh dari sana, berdiri Markas Denzipur (Detasemen Zeni Tempur TNI AD). Tempat ini jadi lokasi pengungsian tercampur: Muslim dan Kristen, dalam satu gedung. Tapi ketegangan tetap terasa. Di balik tempat tidur para pengungsi yang hampir seluruhnya adalah lansia, ibu-ibu, perempuan, dan anak-anak, ada bisik-bisik saling menyalahkan.

“Mereka yang mulai...”

“Tidak, kalian yang duluan...”

Di sini, saya belajar satu hal: damai itu bukan sekadar tenang di luar, tapi juga menerima luka masing-masing. Dan luka-luka itu, ternyata dalam.

 

Ambon: Kota Pela Gandong yang Terkoyak

Dulu kami sering mendengar cerita indah tentang pela gandong. Tentang dua desa dari agama berbeda yang saling mengangkat satu sama lain sebagai saudara. Bila satu desa berduka, desa pela-nya ikut berduka. Bila satu desa menikah, desa pela-nya ikut merayakan.
Tak ada perbedaan. Tak ada batas. Karena dalam pela, Muslim dan Kristen adalah gandong—saudara kandung dari rahim berbeda.

Masyarakat di sana tumbuh dalam suasana seperti itu. Bertetangga tanpa curiga, berteman tanpa prasangka. Bahkan, dalam momen Hari Raya, warga saling berkunjung. Setiap Lebaran, rumah tetangga Kristen ikut menghias dengan ketupat dan lampu hias, demikian pula sebaliknya.

Maka saat kerusuhan pecah, saya sempat tidak percaya.

“Bagaimana bisa kita saling membakar rumah dan saling mengusir, padahal kita gandong?”

Jawabannya, barangkali, ada pada provokasi yang pelan-pelan menyusup, seperti racun dalam air. Ketimpangan ekonomi. Beredarnya rumor tentang kecemburuan pada kelompok BBM (Bugis, Buton, Makassar) yang menguasai perdagangan. Para provokator yang bergerak dengan tujuan tertentu, telah mencapai hasilnya. Dan kita, rakyat biasa, jadi korban.

Kembali terngiang lirik lagu yang sangat familiar : ”hidup ade deng kaka. Sungguh manis lawange. Ale rasa beta rasa… katong dua satu gandong”

 

Di Atas Geladak Kapal PELNI

Setelah semua itu, akhirnya saya dan ribuan orang lainnya mendapat kesempatan meninggalkan Ambon. Kapal PELNI bersandar di pelabuhan. Penuh sesak. Tangga kapal seakan tidak muat untuk menampung penumpang yang berdesakan. Bahkan, ada yang naik ke kapal melalui tali jangkar. Bergelantungan. Bau peluh dan tangis bercampur di dek kapal. Tidak semua orang mendapat tempat duduk. Banyak yang tidur di bawah, di lorong, di samping toilet. Tapi tak satu pun yang mengeluh. Kami hanya ingin selamat.

Saya berdiri di pinggir kapal, menatap Ambon yang perlahan menjauh. Kota itu tampak indah dari kejauhan. Seperti tak terjadi apa-apa. Tapi saya tahu, di balik bukit dan rumah-rumah itu, banyak luka yang belum sempat diobati.

Dan saya bertanya dalam hati:

“Apakah pela gandong akan kembali hidup? Apakah kita bisa bertetangga tanpa takut lagi?
Atau apakah kita akan terus saling curiga, hanya karena berbeda nama dan keyakinan?”

 

Penutup : Catatan Hati

Tahun 1999 adalah tahun yang tak akan saya lupakan. Bukan hanya karena saya hampir kehilangan adik perempuan saya. Bukan hanya karena saya harus tidur di jalan atau menghindari panah dan tombak. Tapi karena saya menyaksikan sendiri, betapa mudah kedamaian berubah menjadi kebencian, bila kita berhenti saling menjaga antar sesama.

Tapi saya percaya satu hal: Pela gandong belum mati. Ia hanya luka. Dan semua yang luka, bisa sembuh—asal kita mau memulainya dengan saling percaya, sekali lagi.

"Dalam Nama Gandong: Catatan Seorang Mahasiswa di Tengah Konflik" (Bagian 2 dari 3)

Bagian 2: MALAM-MALAM PENUH KHAWATIR

Kami Tidur di Jalan, Berselimut Kekhawatiran

Jalanan menuju Batu Merah terasa panjang, bukan karena jaraknya, tapi karena jantung yang berdegup kencang. Di Kebun Cengkeh, saya harus berjalan kaki. Mobil-mobil tak bisa lewat. Kerumunan orang memadati sisi jalan. Beberapa membawa tongkat. Ada juga yang memegang parang. Api masih menyala di kejauhan. Kota Ambon benar-benar sedang terbakar.

Saya tiba di tempat kos adik saya. Kosong. Lengang. Ternyata, menurut tetangga, ia sedang bersilaturahmi ke rumah paman di Halong. Saya agak lega, karena Halong berada di dekat Asrama Angkatan Laut, dan katanya, lebih aman.

Tapi malam itu, rasa aman adalah ilusi yang tipis.

Telepon rumah tak bisa digunakan. Tak ada HP seperti zaman sekarang. Komunikasi dengan keluarga, adik, dan orang tua di kampung — terputus total. Saya sendirian, terperangkap di daerah yang bergolak. Dan malam segera datang.

Malam pertama adalah malam paling panjang dalam hidup saya

Di sekitar Batu Merah, jalan diblokade. Tidak ada kendaraan yang boleh lewat. Kami tidur di jalan. Atau, lebih tepatnya: berjaga di jalan, mata terbuka setengah, telinga selalu waspada. Wilayah ini dikuasai kelompok Muslim, sementara Pasar Mardika dan sekitarnya dikuasai kelompok Kristen. Di antara keduanya, hanya ada satu jembatan yang dijaga ketat oleh aparat. Tapi rumor yang berkembang lebih menyeramkan daripada kenyataan: ini bukan konflik biasa—ini perang agama.

Jik lonceng gereja berbunyi malam-malam, adzan dikumandangkan bukan pada waktu salat. Itu semua adalah kode peringatan. Setiap kali suara itu terdengar, massa bangkit. Kami bersiap di garis batas.

Simbol-simbol agama menjadi kunci bertahan hidup. Kami membuat tanda pita di lengan dan menyusun kode tanya-jawab sebagai kata sandi. Jika seseorang tidak bisa menjawab dengan benar, maka ia dianggap penyusup. Tak jarang berakhir tragis.

Saya sempat berjaga di rumah warga dekat gereja. Tak ada tidur nyenyak. Yang kami punya hanya parang dan tiang bambu. Makanan terbatas. Air pun mulai langka. Tapi kami bertahan. Bertahan bukan hanya demi hidup, tapi demi sesama yang tertinggal.

Sekitar seminggu kemudian, saya diminta menemani seorang teman ke rumahnya. Ia ingin menyelamatkan ijazah dan barang-barang penting, karena saat kerusuhan terjadi, ia sedang berada di luar dan tak bisa kembali ke rumah.

Kami masuk ke sebuah gang yang dalam. Di kiri-kanan, pintu rumah mulai terbuka. Anak-anak muda berdiri di depan, bertanya:

“Agama kamu apa?”

Jantung saya hampir copot. Tak bisa bohong. Kami menjawab jujur: “Kami Muslim.”

Mereka menatap tajam. Sebagian mulai menggenggam tombak, panah, dan parang. Saya mengintip ke arah jalan raya, tempat tentara marinir berjaga. Tapi jaraknya terlalu jauh. Jika sesuatu terjadi, saya tak bisa lari secepat itu.

Untungnya, seorang ibu paruh baya muncul. Dengan suara lantang ia berteriak:

“Beta tau orang ini! Sudah, cepat pergi keluar, jangan ada yang ganggu!”

Ia seperti pelindung malaikat yang dikirim tepat waktu. Kami segera diminta keluar dari gang, kembali ke jalan utama. Nyawa kami terselamatkan oleh keberanian seorang ibu. Tanda bahwa nurani tetap ada di tengah konflik. Dan, ini adalah gambaran nurani mayoritas masyarakat Ambon yang cinta damai. 

Isu BBM mulai berhembus keras

Bukan Bahan Bakar Minyak, tapi Bugis, Buton, dan Makassar—kelompok perantau yang selama ini mendominasi sektor ekonomi, khususnya perdagangan di Pasar Mardika. Ditengarai ada kecemburuan sosial. Ada ketimpangan. Ada nada-nada ketidakpuasan yang diam-diam mengendap, lalu meledak saat suasana reformasi membuka celah-celah ketegangan lama.

Sebagian mengatakan: ini perang ekonomi yang dibungkus dengan baju agama.

Dan kami—mahasiswa, pedagang kecil, warga biasa—terjebak di tengahnya.


Ambon, Nirwana di Ujung Timur (Bagian 1 dari 2)

"Hidup ade deng kaka, sungguh manis lawange. Ale rasa, beta rasa… katong dua satu gandong." Lagu itu seperti doa yang mengalun di sudut hati siapa saja yang pernah menginjakkan kaki di Ambon. Sebuah kota kecil di timur Indonesia yang dulu terasa seperti nirwana yang jatuh dari langit, terhampar indah di antara teluk dan jazirah. 

Saya datang ke Ambon tahun 1995, diterima di Fakultas Pertanian Universitas Pattimura, jurusan Manajemen Hutan. Tak pernah menyangka, kota ini akan begitu melekat di hati—bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kehangatan manusianya. 

Nirwana Bernama Ambon Bayangkan sebuah tempat yang dikecup angin laut dari pagi hingga malam, dengan matahari yang menyinari pasir putih lembut di pantai-pantai seperti Liang dan Natsepa. Pulau-pulau kecil di sekitar Ambon seperti serpihan zamrud yang dilempar dewa ke laut biru. Air lautnya sebening kaca, dan jika kau menyelam, kau bisa melihat tarian ikan-ikan warna-warni di karang yang sehat dan cantik. 

Ambon adalah surga. Teluknya memeluk kota dengan cinta. Dari Rumah Tiga tempat saya bertumbuh, hingga ke pusat kota, terbentang pemandangan laut yang tak pernah membosankan. Kami biasa menyeberangi Teluk Ambon menggunakan fery atau perahu dayung kecil. Setiap kali menyebrang, selalu ada hembusan angin asin yang menyapa, seolah mengucap: "Selamat datang di tanah damai." 

Pela Gandong: Tali Kasih Tanpa Putus Di kota ini, saya belajar satu nilai yang begitu dalam: Pela Gandong. Sebuah ikatan persaudaraan yang tidak dibentuk oleh darah, tapi oleh sejarah dan cinta. Pela berarti perjanjian, dan Gandong adalah saudara. Ikatan ini menjadikan desa-desa muslim dan kristen bersaudara secara adat, saling melindungi, dan bahkan turut berduka jika salah satunya tertimpa musibah. Jika satu desa sedang berduka, gandong-nya pun turut menangis. Jika satu desa sedang berpesta, gandong-nya pun ikut menari. Begitu kuatnya nilai ini, hingga membuat Ambon menjadi kota dengan toleransi tinggi. Gereja Maranatha berdiri megah, tak jauh dari Masjid Raya Al-Fatah. Saling menghormati, saling menjaga, dan hidup berdampingan dalam damai. 

Miniatur Indonesia yang Penuh Warna Di Ambon, saya menemukan suasana kekeluargaan yang tulus. Wajah-wajah keras dan tegas, suara keras dan tinggi—yang mungkin jika didengar di tempat lain terasa menantang—di sini justru hangat. Mereka menyapa dengan canda, bahkan kadang dengan cacian yang bermakna akrab. Tak ada yang marah, karena di balik suara keras itu ada hati yang lembut dan penuh kasih. Ambon adalah miniatur Indonesia. Dari Bugis, Buton, Makassar, Jawa, Sumatera, sampai Papua—semua hidup bersama, makan bersama, dan tertawa bersama. Hidangan ikan segar adalah makanan harian. Apalagi kalau sudah bertemu dengan sambal kenari atau dabu-dabu, dijamin lidahmu tak ingin pulang. 

Gairah Kota yang Hidup Tahun-tahun antara 1995 hingga 2000 saat bertumbuh di kota ini, Ambon yang saya kenal sebagai kota dagang. Pasar Mardika adalah nadi ekonomi, di mana suara tawar menawar seperti musik harian. Di sekitarnya berdiri Ambon Plaza, pusat belanja modern saat itu. Taman Victoria menjadi tempat nongkrong anak muda dan keluarga. Pelabuhan Ambon sibuk dengan kapal dan aktivitas bongkar muat dari seluruh penjuru Maluku. Perdagangan rempah-rempah seperti cengkeh dan pala dari pulau-pulau sekitarnya menjadi denyut ekonomi kota ini. 

Dan tentu saja, Universitas Pattimura, kampus megah penuh kenangan. Saya menghabiskan waktu belajar di sana, di bawah pohon besar yang rindang, ditemani kicau burung dan hembusan angin. Gedung Rektorat menjadi saksi saat antri registrasi setiap perubahan semester, dari pagi hingga sore. Lorong-lorong gedung perkuliahan, menjadi saksi duduk lesehan menunggu jam perkuliahan, sambil saling melempar canda. Menjadi saksi tawa, perjuangan, cinta diam-diam, dan persahabatan yang masih terjaga sampai kini. 

Meski Pernah Terkoyak, Ambon Tetap Cinta Tentu, seperti cinta yang diuji, Ambon pernah terluka. Pernah dikhianati oleh kabut kebencian dan bara provokasi. Namun luka itu tidak menghapus cinta. Karena cinta sejati selalu menemukan jalan pulang. Kini, Ambon tetaplah Ambon. Kota yang tetap dirindukan, dengan sejuta kenangan yang mengharum dari waktu ke waktu. Tempat di mana hidup pernah terasa begitu lengkap. Tempat yang mengajarkan saya arti persaudaraan, keberagaman, dan kerinduan akan damai. 

 Dan setiap kali saya mendengar lagu itu dinyanyikan… "Ale rasa, beta rasa… katong dua satu gandong…" …air mata saya mungkin tak jatuh, tapi hati saya selalu bergetar. Jika kamu pernah mencintai sebuah kota, dan kota itu adalah Ambon, maka kamu tahu: sebagian jiwamu akan selalu tinggal di sana.

"Dalam Nama Gandong: Catatan Seorang Mahasiswa di Tengah Konflik" (Bagian 1 dari 3)

Bagian 1 : HARI ITU LANGIT TERBELAH DI TELUK AMBON


Hari Itu Langit Terbelah di Teluk Ambon Lebaran 1999 seharusnya menjadi momen manis. Saya dan beberapa teman kuliah di Universitas Pattimura sudah merancang rencana kecil: liburan ke desa teman kami di Kairatu, sebuah kawasan tenang di Seram Barat. Kami akan berangkat menggunakan kapal kecil dari Teluk Ambon. Kabarnya, air di sana jernih, orang-orangnya ramah, dan udaranya membawa damai. Tapi takdir memutuskan lain. 

Entah kenapa, pagi itu rencana kami batal. Sekadar perubahan kecil? Sepertinya tidak. Sebab siangnya, saat saya berdiri di dekat pasar di tepi pantai Desa Rumah Tiga, saya menyaksikan pemandangan yang akan tertanam selamanya dalam ingatan saya. 

Asap. 
Hitam, tebal, menggulung tinggi dari arah pusat Kota Ambon. Ambon berbentuk seperti mangkuk raksasa. Dari Teluk Baguala ke pusat kota, hanya udara dan cakrawala yang membatasi. Dan asap itu... bukan asap biasa. 

Naluri saya langsung bekerja. 
"Ini bukan kebakaran biasa," batin saya. Terlalu besar, terlalu pekat, dan sebelumnya... terlalu banyak desas-desus. Tentang konflik. Tentang ketegangan pasca-Reformasi. Tentang luka lama yang entah kapan mulai membusuk.

Padahal, Ambon adalah rumah bagi persaudaraan yang sangat luhur: Pela Gandong. Sebuah sistem kekerabatan antardesa di Maluku yang menyatukan desa-desa Muslim dan Kristen sebagai "saudara kandung". Tradisi ini tidak mengenal batas agama. Jika satu desa berduka, desa gandong-nya ikut berduka. Jika satu desa diserang, gandong-nya datang membela. Tradisi Pela Gandong menjadi pilar toleransi Maluku. Kami tumbuh mengenalnya, menjalaninya, bahkan merayakannya. 

Tapi mungkin kami juga lengah... dan mulai termakan oleh racun provokasi yang pelan-pelan menyusup. 

Yang pertama kali terlintas di benak saya adalah adik perempuan saya. Ia bekerja di toko milik paman di daerah Batu Merah, dekat Pasar Mardika—salah satu titik paling rawan jika benar-benar terjadi kerusuhan. 

Saya langsung bergegas. 
Menyebrangi Teluk Ambon bukan dengan kapal feri, tapi perahu dayung kecil yang biasa digunakan warga. Ketika mendarat di daerah bernama Galala, saya mulai merasakan kepanikan. Jalanan padat. Orang berlari. Wajah-wajah bingung dan takut. Melewati daerah Tantui, menuju daerah Kebun Cengkeh, jalan benar-benar lumpuh. Saya harus berjalan kaki. 

Dan di situlah... saya tahu: Ambon terbakar.  

(berlanjut ke Bagian 2...)

Kamis, 03 Desember 2015

LIHAT POTENSI, LUPAKAN KONFLIK


LIHAT POTENSI, LUPAKAN KONFLIKKemitraan – Kawal Borneo CF. Kampung Muara Tae dan Muara Ponak di Kabupaten Kutai Barat...
Posted by Salim Laziale Sirahmad on Thursday, December 3, 2015

Rabu, 25 Maret 2015

MEMANUSIAKAN MANUSIA..



Banyak kisah terungkap saat pelatihan fasilitator yang diselenggarakan oleh Kemitraan melalui Program Peduli. Pelatihan yang dilakukan mulai tanggal 16 s/d 23 Maret 2015 di Purwokerto dan diikuti oleh puluhan fasilitator peduli dari berbagai provinsi di Indonesia, mengangkat isu pendampingan komunitas adat dan suku asli yang terpinggirkan, terabaikan, diskriminatif dan ter-ekslusi.

Masih banyak stigma buruk yang berkembang di masyarakat tentang komunitas terpinggirkan, terutama komunitas suku adat. Anggapan bahwa mereka jorok, bodoh, terbelakang, membuat komunitas ini cenderung tidak mendapat tempat di tengah masyarakat. Cemoohan dan hinaan kerapkali menerpa mereka.

Hal itu pula yang terjadi terhadap Suku Anak Dalam alias Suku Rimba di Sumatra. Mereka hidup nomaden dalam rimba, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Hal ini dilakukan jika ada anggota dalam satu “rombong” ada yang meninggal dunia. Perpindahan ini mereka sebut sebagai “melangun”.

Keluarga Suku Anak Dalam tinggal berdesakan dalam sebuah “rumah” sangat sederhana dengan beratapkan tenda, tanpa dinding. Tua dan muda, laki-laki dan perempuan, berkumpul menjadi satu dalam rumah tersebut. Sungguh, tempat tinggal yang sangat tidak layak untuk disebut sebagai rumah.

Syamri, fasilitator Lembaga Pundi Sumatra yang mendampingi Suku Anak Rimba di Jambi mengatakan bahwa kehidupan mereka sangat memprihatinkan. “Jika kelompok Anak Rimba melewati sebuah kampung, penduduk setempat akan menutup hidung dan mencemooh mereka”, ujarnya.

Begitu pula kisah yang diungkapkan oleh Haris, rekan Syamri di Pundi Sumatra. Haris bahkan menitikkan air mata saat live in di tempat tinggal Suku Anak Dalam. “Pernah suatu waktu anak dari Suku Rimba sakit. Sang Ibu hanya bisa menyanyikan lagu untuk menghibur anaknya, yang baru bisa dibawa ke Puskesmas terdekat keesokan harinya”, ujarnya. 

Haris menambahkan bahwa pernah suatu ketika anggota komunitas Suku Anak Dalam mengalami sakit. Oleh pihak puskesmas setempat, anggota keluarga Suku Anak Dalam yang menderita sakit tersebut ditempatkan di sebuah ruangan gudang dengan alasan ruang perawatan  penuh. Sebuah perlakuan yang sangat menyayat hati bagi siapapun yang melihatnya.

Terlepas dari kelas sosial yang mereka miliki, Suku Anak Dalam juga adalah Manusia. Mereka bagian dari Republik ini. Mereka juga layak mendapatkan perlakuan yang sama layaknya manusia lain di negri tercinta ini. Menyakiti mereka, berarti menyakiti negri ini. Mereka adalah manusia, sama dengan rakyat Indonesia umumnya, yang wajib mendapatkan hak-hak dasar mereka..

Tapi mereka tidak sendirian. Selalu ada orang-orang hebat, yang bersedia membantu mengangkat martabat mereka. Salah satunya dengan program pendampingan yang dilakukan oleh Pundi Sumatra melalui Program Peduli. Saatnya “memanusiakan manusia”.
#IDIinklusif


Senin, 14 April 2014

SEMANGAT DARI SELATAN



“Bu, ada undangan dari PT Badak untuk mengirimkan dua orang perwakilan kelompok mengikuti pelatihan”
 “Sebentar pak, kami harus rapat dulu malam ini”.
“Tapi sekarang kan sudah lumayan malam, Bu”
“Sudah menjadi kesepakatan kelompok kami bahwa setiap keputusan yang diambil harus melalui rapat”
“Meski malam-malam begini? Apa anggota tidak merasa keberatan?”
Nggak, anggota kelompok siap hadir tiap pertemuan, meski malam hari”.

Kutatap jam dinding. (Maklum, nggak pernah memakai jam tangan, hehehe). Arah jarum panjang di angka 12 dan jarum pendek di angka 9. Pukul 21.00 Wita.

Beberapa saat kemudian kembali ponselku berdering. “Apakah boleh saya mengirim semua anggota”? Tanya Ibu Hapsiah di ujung sana, menunjukkan spirit yang tinggi untuk mengikuti kegiatan.
“Tapi undangannya hanya untuk dua orang, Bu”, jawabku

Itulah kutipan pembicaraanku via ponsel dengan dengan Ibu Hapsiah, Ketua Kelompok Karya Bersama Lok Tunggul. Kelompok dampingan KBCF di Kota Bontang yang selalu memperlihatkan semangat yang tinggi. Di tengah segala keterbatasan, tidak menyurutkan semangat berkelompok mereka. Aturan main telah dibuat. Dan, setiap anggota kelompok mempunyai kewajiban untuk menjalankan kesepakatan itu.

Lok Tunggul. Sebuah wilayah yang terletak di Selatan Kota Bontang. Untuk menjangkaunya butuh sedikit perjuangan. Melewati jalan tanah yang berlumpur dan licin saat hujan. Butuh perjuangan ekstra menggunakan sepeda motor. Jika hujan turun dengan deras, perjalanan menuju kesana menjadi “mengasyikkan”, ibarat pembalap off road. Jembatan ulin panjang menghubungkan kampung ini dengan wilayah Teluk Kadere sehingga memungkinkan untuk dijangkau dengan perjalanan darat. Sebelum tahun 2013, satu-satunya akses menuju ke kampung Lok Tunggul menggunakan alat transportasi laut.

Alternatif lain untuk menjangkau daerah ini melalui laut. Dengan menggunakan perahu ketinting, daerah ini bisa dicapai kurang lebih 45 menit dari pelabuhan Tanjung Laut Indah Bontang. Laut tidak selalu bersahabat. Kadang tenang, kadang gelombang datang menghempas ketinting.

Sulitnya akses tidak menurunkan semangat anggota kelompok yang semuanya adalah kaum perempuan. Jika ada undangan, pagi-pagi sekali mereka telah berangkat menggunakan ketinting. Saat gelombang datang, mereka pun harus berjuang melawan rasa khawatir. Tanpa jaket pelindung, tanpa alat penolong keselamatan. Semua serba natural. Mungkin karena telah terbiasa, membuat segala jenis perlengkapan tersebut menjadi “tidak berarti”.

Semangat seperti itu terus tumbuh seiring kegiatan pendampingan yang dilakukan KBCF. Seolah-olah menemukan dunia baru dengan keasyikannya tersendiri, setelah sekian lama hanya berkutat pada kegiatan rutin di urusan domestik rumah tangga. Spirit yang ingin menunjukkan bahwa kaum ibu-ibu juga bisa melakukan kegiatan bermanfaat, bisa membangun jaringan dengan pihak luar, mampu beradaptasi dengan lingkungan luar, serta mempunyai kesempatan yang sama untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mereka, bisa belajar membagi waktu antara urusan keluarga dengan urusan luar.

Kegiatan pendampingan telah memberikan manfaat signifikan bagi kelompok ibu-ibu. Bahwa, kemampuan menjalin kerjasama dan kemitraan dengan dunia luar bukan hanya milik laki-laki. Bahwa kaum perempuan juga bisa melakukan hal-hal yang selama ini hanya dilakukan oleh laki-laki di kampungnya. Bahwa kaum perempuan pun mempunyai kesempatan didengarkan suaranya, ikut terlibat dalam urusan pembangunan di kampungnya, yang selama ini meraka hanya menjadi penonton saja.

Lebih dari itu, kaum perempuan adalah guru pertama dan utama bagi anak-anaknya. Meningkatnya kemampuan mereka, akan menular kepada anak-anaknya. Kaum ibu lah yang lebih sering bersama dan mengajarkan nilai-nilai serta pengetahuan kepada anak-anaknya.

“Pengetahuan kami menjadi meningkat dengan mengikuti kegiatan-kegiatan pendampingan. Kepercayaan diri kami pun ikut meningkat. Suara kami menjadi lebih didengarkan. Jika ada pertemuan di kampung, kaum perempuan khususnya yang terlibat dalam kelompok, seringkali mendapat undangan untuk ikut memberikan pendapat. Peristiwa yang hampir tak pernah terjadi di waktu-waktu yang lalu”, pungkas ibu Hapsiah.

Kegiatan pendampingan, sejatinya adalah meningkatkan kemampuan dan pemahaman kelompok-kelompok yang suaranya hampir tidak didengarkan di dalam komunitasnya. Menularkan virus optimisme dan kepercayaan diri, bukan untuk lebih tinggi dibandingkan laki-laki, tapi agar terjadi keseimbangan peran dalam sebuah komunitas. Laki-laki dan perempuan mempunyai kesempatan dan kemampuan yang sama. Pendampingan yang dilakukan telah memperlihatkan hal itu.  (ns)

Lok Tunggul, semangat yang tak pernah padam…

SAYA LAZIALE (Bagian 3 dari 3)

  Elang Tidak Butuh Kerumunan Cinta itu tumbuh makin dalam ketika Lazio diasuh oleh Simone Inzaghi—mantan pemain, legenda, dan Laziale sej...