Kami Tidur di Jalan,
Berselimut Kekhawatiran
Jalanan menuju Batu Merah terasa
panjang, bukan karena jaraknya, tapi karena jantung yang berdegup kencang. Di Kebun
Cengkeh, saya harus berjalan kaki. Mobil-mobil tak bisa lewat. Kerumunan orang
memadati sisi jalan. Beberapa membawa tongkat. Ada juga yang memegang parang.
Api masih menyala di kejauhan. Kota Ambon benar-benar sedang terbakar.
Saya tiba di tempat kos adik
saya. Kosong. Lengang. Ternyata, menurut tetangga, ia sedang bersilaturahmi ke
rumah paman di Halong. Saya agak lega, karena Halong berada di dekat Asrama
Angkatan Laut, dan katanya, lebih aman.
Tapi malam itu, rasa aman adalah
ilusi yang tipis.
Telepon rumah tak bisa digunakan.
Tak ada HP seperti zaman sekarang. Komunikasi dengan keluarga, adik, dan orang
tua di kampung — terputus total. Saya sendirian, terperangkap di daerah yang
bergolak. Dan malam segera datang.
Malam pertama adalah malam
paling panjang dalam hidup saya
Di sekitar Batu Merah, jalan
diblokade. Tidak ada kendaraan yang boleh lewat. Kami tidur di jalan. Atau,
lebih tepatnya: berjaga di jalan, mata terbuka setengah, telinga selalu
waspada. Wilayah ini dikuasai kelompok Muslim, sementara Pasar Mardika dan
sekitarnya dikuasai kelompok Kristen. Di antara keduanya, hanya ada satu
jembatan yang dijaga ketat oleh aparat. Tapi rumor yang berkembang lebih
menyeramkan daripada kenyataan: ini bukan konflik biasa—ini perang agama.
Jik lonceng gereja berbunyi
malam-malam, adzan dikumandangkan bukan pada waktu salat. Itu semua adalah kode
peringatan. Setiap kali suara itu terdengar, massa bangkit. Kami bersiap di
garis batas.
Simbol-simbol agama menjadi kunci
bertahan hidup. Kami membuat tanda pita di lengan dan menyusun kode tanya-jawab
sebagai kata sandi. Jika seseorang tidak bisa menjawab dengan benar, maka ia
dianggap penyusup. Tak jarang berakhir tragis.
Saya sempat berjaga di rumah
warga dekat gereja. Tak ada tidur nyenyak. Yang kami punya hanya parang dan
tiang bambu. Makanan terbatas. Air pun mulai langka. Tapi kami bertahan.
Bertahan bukan hanya demi hidup, tapi demi sesama yang tertinggal.
Sekitar seminggu kemudian, saya
diminta menemani seorang teman ke rumahnya. Ia ingin menyelamatkan ijazah dan
barang-barang penting, karena saat kerusuhan terjadi, ia sedang berada di luar
dan tak bisa kembali ke rumah.
Kami masuk ke sebuah gang yang
dalam. Di kiri-kanan, pintu rumah mulai terbuka. Anak-anak muda berdiri di
depan, bertanya:
“Agama kamu apa?”
Jantung saya hampir copot. Tak
bisa bohong. Kami menjawab jujur: “Kami Muslim.”
Mereka menatap tajam. Sebagian
mulai menggenggam tombak, panah, dan parang. Saya mengintip ke arah jalan raya,
tempat tentara marinir berjaga. Tapi jaraknya terlalu jauh. Jika sesuatu
terjadi, saya tak bisa lari secepat itu.
Untungnya, seorang ibu paruh baya
muncul. Dengan suara lantang ia berteriak:
“Beta tau orang ini! Sudah, cepat
pergi keluar, jangan ada yang ganggu!”
Ia seperti pelindung malaikat
yang dikirim tepat waktu. Kami segera diminta keluar dari gang, kembali ke
jalan utama. Nyawa kami terselamatkan oleh keberanian seorang ibu. Tanda bahwa
nurani tetap ada di tengah konflik. Dan, ini adalah gambaran nurani mayoritas masyarakat Ambon yang cinta damai.
Isu BBM mulai berhembus keras
Bukan Bahan Bakar Minyak, tapi Bugis,
Buton, dan Makassar—kelompok perantau yang selama ini mendominasi sektor
ekonomi, khususnya perdagangan di Pasar Mardika. Ditengarai ada kecemburuan sosial. Ada
ketimpangan. Ada nada-nada ketidakpuasan yang diam-diam mengendap, lalu meledak
saat suasana reformasi membuka celah-celah ketegangan lama.
Sebagian mengatakan: ini perang
ekonomi yang dibungkus dengan baju agama.
Dan kami—mahasiswa, pedagang
kecil, warga biasa—terjebak di tengahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolong jangan memberikan komentar yang menyudutkan, agitasi ataupun berbau ras.. Terima Kasih. -NS-