https://www.histats.com

Rabu, 16 Juli 2025

"Dalam Nama Gandong: Catatan Seorang Mahasiswa di Tengah Konflik" (Bagian 2 dari 3)

Bagian 2: MALAM-MALAM PENUH KHAWATIR

Kami Tidur di Jalan, Berselimut Kekhawatiran

Jalanan menuju Batu Merah terasa panjang, bukan karena jaraknya, tapi karena jantung yang berdegup kencang. Di Kebun Cengkeh, saya harus berjalan kaki. Mobil-mobil tak bisa lewat. Kerumunan orang memadati sisi jalan. Beberapa membawa tongkat. Ada juga yang memegang parang. Api masih menyala di kejauhan. Kota Ambon benar-benar sedang terbakar.

Saya tiba di tempat kos adik saya. Kosong. Lengang. Ternyata, menurut tetangga, ia sedang bersilaturahmi ke rumah paman di Halong. Saya agak lega, karena Halong berada di dekat Asrama Angkatan Laut, dan katanya, lebih aman.

Tapi malam itu, rasa aman adalah ilusi yang tipis.

Telepon rumah tak bisa digunakan. Tak ada HP seperti zaman sekarang. Komunikasi dengan keluarga, adik, dan orang tua di kampung — terputus total. Saya sendirian, terperangkap di daerah yang bergolak. Dan malam segera datang.

Malam pertama adalah malam paling panjang dalam hidup saya

Di sekitar Batu Merah, jalan diblokade. Tidak ada kendaraan yang boleh lewat. Kami tidur di jalan. Atau, lebih tepatnya: berjaga di jalan, mata terbuka setengah, telinga selalu waspada. Wilayah ini dikuasai kelompok Muslim, sementara Pasar Mardika dan sekitarnya dikuasai kelompok Kristen. Di antara keduanya, hanya ada satu jembatan yang dijaga ketat oleh aparat. Tapi rumor yang berkembang lebih menyeramkan daripada kenyataan: ini bukan konflik biasa—ini perang agama.

Jik lonceng gereja berbunyi malam-malam, adzan dikumandangkan bukan pada waktu salat. Itu semua adalah kode peringatan. Setiap kali suara itu terdengar, massa bangkit. Kami bersiap di garis batas.

Simbol-simbol agama menjadi kunci bertahan hidup. Kami membuat tanda pita di lengan dan menyusun kode tanya-jawab sebagai kata sandi. Jika seseorang tidak bisa menjawab dengan benar, maka ia dianggap penyusup. Tak jarang berakhir tragis.

Saya sempat berjaga di rumah warga dekat gereja. Tak ada tidur nyenyak. Yang kami punya hanya parang dan tiang bambu. Makanan terbatas. Air pun mulai langka. Tapi kami bertahan. Bertahan bukan hanya demi hidup, tapi demi sesama yang tertinggal.

Sekitar seminggu kemudian, saya diminta menemani seorang teman ke rumahnya. Ia ingin menyelamatkan ijazah dan barang-barang penting, karena saat kerusuhan terjadi, ia sedang berada di luar dan tak bisa kembali ke rumah.

Kami masuk ke sebuah gang yang dalam. Di kiri-kanan, pintu rumah mulai terbuka. Anak-anak muda berdiri di depan, bertanya:

“Agama kamu apa?”

Jantung saya hampir copot. Tak bisa bohong. Kami menjawab jujur: “Kami Muslim.”

Mereka menatap tajam. Sebagian mulai menggenggam tombak, panah, dan parang. Saya mengintip ke arah jalan raya, tempat tentara marinir berjaga. Tapi jaraknya terlalu jauh. Jika sesuatu terjadi, saya tak bisa lari secepat itu.

Untungnya, seorang ibu paruh baya muncul. Dengan suara lantang ia berteriak:

“Beta tau orang ini! Sudah, cepat pergi keluar, jangan ada yang ganggu!”

Ia seperti pelindung malaikat yang dikirim tepat waktu. Kami segera diminta keluar dari gang, kembali ke jalan utama. Nyawa kami terselamatkan oleh keberanian seorang ibu. Tanda bahwa nurani tetap ada di tengah konflik. Dan, ini adalah gambaran nurani mayoritas masyarakat Ambon yang cinta damai. 

Isu BBM mulai berhembus keras

Bukan Bahan Bakar Minyak, tapi Bugis, Buton, dan Makassar—kelompok perantau yang selama ini mendominasi sektor ekonomi, khususnya perdagangan di Pasar Mardika. Ditengarai ada kecemburuan sosial. Ada ketimpangan. Ada nada-nada ketidakpuasan yang diam-diam mengendap, lalu meledak saat suasana reformasi membuka celah-celah ketegangan lama.

Sebagian mengatakan: ini perang ekonomi yang dibungkus dengan baju agama.

Dan kami—mahasiswa, pedagang kecil, warga biasa—terjebak di tengahnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolong jangan memberikan komentar yang menyudutkan, agitasi ataupun berbau ras.. Terima Kasih. -NS-

SAYA LAZIALE (Bagian 3 dari 3)

  Elang Tidak Butuh Kerumunan Cinta itu tumbuh makin dalam ketika Lazio diasuh oleh Simone Inzaghi—mantan pemain, legenda, dan Laziale sej...