Saya datang ke Ambon tahun 1995, diterima di Fakultas Pertanian Universitas Pattimura, jurusan Manajemen Hutan. Tak pernah menyangka, kota ini akan begitu melekat di hati—bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kehangatan manusianya.
Nirwana Bernama Ambon
Bayangkan sebuah tempat yang dikecup angin laut dari pagi hingga malam, dengan matahari yang menyinari pasir putih lembut di pantai-pantai seperti Liang dan Natsepa. Pulau-pulau kecil di sekitar Ambon seperti serpihan zamrud yang dilempar dewa ke laut biru. Air lautnya sebening kaca, dan jika kau menyelam, kau bisa melihat tarian ikan-ikan warna-warni di karang yang sehat dan cantik.
Ambon adalah surga. Teluknya memeluk kota dengan cinta. Dari Rumah Tiga tempat saya bertumbuh, hingga ke pusat kota, terbentang pemandangan laut yang tak pernah membosankan. Kami biasa menyeberangi Teluk Ambon menggunakan fery atau perahu dayung kecil. Setiap kali menyebrang, selalu ada hembusan angin asin yang menyapa, seolah mengucap: "Selamat datang di tanah damai."
Pela Gandong: Tali Kasih Tanpa Putus
Di kota ini, saya belajar satu nilai yang begitu dalam: Pela Gandong. Sebuah ikatan persaudaraan yang tidak dibentuk oleh darah, tapi oleh sejarah dan cinta. Pela berarti perjanjian, dan Gandong adalah saudara. Ikatan ini menjadikan desa-desa muslim dan kristen bersaudara secara adat, saling melindungi, dan bahkan turut berduka jika salah satunya tertimpa musibah.
Jika satu desa sedang berduka, gandong-nya pun turut menangis. Jika satu desa sedang berpesta, gandong-nya pun ikut menari. Begitu kuatnya nilai ini, hingga membuat Ambon menjadi kota dengan toleransi tinggi. Gereja Maranatha berdiri megah, tak jauh dari Masjid Raya Al-Fatah. Saling menghormati, saling menjaga, dan hidup berdampingan dalam damai.
Miniatur Indonesia yang Penuh Warna
Di Ambon, saya menemukan suasana kekeluargaan yang tulus. Wajah-wajah keras dan tegas, suara keras dan tinggi—yang mungkin jika didengar di tempat lain terasa menantang—di sini justru hangat. Mereka menyapa dengan canda, bahkan kadang dengan cacian yang bermakna akrab. Tak ada yang marah, karena di balik suara keras itu ada hati yang lembut dan penuh kasih. Ambon adalah miniatur Indonesia. Dari Bugis, Buton, Makassar, Jawa, Sumatera, sampai Papua—semua hidup bersama, makan bersama, dan tertawa bersama. Hidangan ikan segar adalah makanan harian. Apalagi kalau sudah bertemu dengan sambal kenari atau dabu-dabu, dijamin lidahmu tak ingin pulang.
Gairah Kota yang Hidup
Tahun-tahun antara 1995 hingga 2000 saat bertumbuh di kota ini, Ambon yang saya kenal sebagai kota dagang. Pasar Mardika adalah nadi ekonomi, di mana suara tawar menawar seperti musik harian. Di sekitarnya berdiri Ambon Plaza, pusat belanja modern saat itu. Taman Victoria menjadi tempat nongkrong anak muda dan keluarga. Pelabuhan Ambon sibuk dengan kapal dan aktivitas bongkar muat dari seluruh penjuru Maluku. Perdagangan rempah-rempah seperti cengkeh dan pala dari pulau-pulau sekitarnya menjadi denyut ekonomi kota ini.
Dan tentu saja, Universitas Pattimura, kampus megah penuh kenangan. Saya menghabiskan waktu belajar di sana, di bawah pohon besar yang rindang, ditemani kicau burung dan hembusan angin. Gedung Rektorat menjadi saksi saat antri registrasi setiap perubahan semester, dari pagi hingga sore. Lorong-lorong gedung perkuliahan, menjadi saksi duduk lesehan menunggu jam perkuliahan, sambil saling melempar canda. Menjadi saksi tawa, perjuangan, cinta diam-diam, dan persahabatan yang masih terjaga sampai kini.
Meski Pernah Terkoyak, Ambon Tetap Cinta
Tentu, seperti cinta yang diuji, Ambon pernah terluka. Pernah dikhianati oleh kabut kebencian dan bara provokasi. Namun luka itu tidak menghapus cinta. Karena cinta sejati selalu menemukan jalan pulang. Kini, Ambon tetaplah Ambon. Kota yang tetap dirindukan, dengan sejuta kenangan yang mengharum dari waktu ke waktu. Tempat di mana hidup pernah terasa begitu lengkap. Tempat yang mengajarkan saya arti persaudaraan, keberagaman, dan kerinduan akan damai.
Dan setiap kali saya mendengar lagu itu dinyanyikan…
"Ale rasa, beta rasa… katong dua satu gandong…"
…air mata saya mungkin tak jatuh, tapi hati saya selalu bergetar.
Jika kamu pernah mencintai sebuah kota, dan kota itu adalah Ambon, maka kamu tahu:
sebagian jiwamu akan selalu tinggal di sana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolong jangan memberikan komentar yang menyudutkan, agitasi ataupun berbau ras.. Terima Kasih. -NS-