Bagian 1 : HARI ITU LANGIT TERBELAH DI TELUK AMBON
Hari Itu Langit Terbelah di Teluk Ambon
Lebaran 1999 seharusnya menjadi momen manis. Saya dan beberapa teman kuliah di Universitas Pattimura sudah merancang rencana kecil: liburan ke desa teman kami di Kairatu, sebuah kawasan tenang di Seram Barat. Kami akan berangkat menggunakan kapal kecil dari Teluk Ambon. Kabarnya, air di sana jernih, orang-orangnya ramah, dan udaranya membawa damai. Tapi takdir memutuskan lain.
Entah kenapa, pagi itu rencana kami batal. Sekadar perubahan kecil? Sepertinya tidak. Sebab siangnya, saat saya berdiri di dekat pasar di tepi pantai Desa Rumah Tiga, saya menyaksikan pemandangan yang akan tertanam selamanya dalam ingatan saya.
Asap.
Hitam, tebal, menggulung tinggi dari arah pusat Kota Ambon. Ambon berbentuk seperti mangkuk raksasa. Dari Teluk Baguala ke pusat kota, hanya udara dan cakrawala yang membatasi. Dan asap itu... bukan asap biasa.
Naluri saya langsung bekerja.
"Ini bukan kebakaran biasa," batin saya. Terlalu besar, terlalu pekat, dan sebelumnya... terlalu banyak desas-desus. Tentang konflik. Tentang ketegangan pasca-Reformasi. Tentang luka lama yang entah kapan mulai membusuk.
Padahal, Ambon adalah rumah bagi persaudaraan yang sangat luhur: Pela Gandong. Sebuah sistem kekerabatan antardesa di Maluku yang menyatukan desa-desa Muslim dan Kristen sebagai "saudara kandung". Tradisi ini tidak mengenal batas agama. Jika satu desa berduka, desa gandong-nya ikut berduka. Jika satu desa diserang, gandong-nya datang membela. Tradisi Pela Gandong menjadi pilar toleransi Maluku. Kami tumbuh mengenalnya, menjalaninya, bahkan merayakannya.
Tapi mungkin kami juga lengah... dan mulai termakan oleh racun provokasi yang pelan-pelan menyusup.
Yang pertama kali terlintas di benak saya adalah adik perempuan saya. Ia bekerja di toko milik paman di daerah Batu Merah, dekat Pasar Mardika—salah satu titik paling rawan jika benar-benar terjadi kerusuhan.
Saya langsung bergegas.
Menyebrangi Teluk Ambon bukan dengan kapal feri, tapi perahu dayung kecil yang biasa digunakan warga. Ketika mendarat di daerah bernama Galala, saya mulai merasakan kepanikan. Jalanan padat. Orang berlari. Wajah-wajah bingung dan takut. Melewati daerah Tantui, menuju daerah Kebun Cengkeh, jalan benar-benar lumpuh. Saya harus berjalan kaki.
Dan di situlah... saya tahu: Ambon terbakar.
(berlanjut ke Bagian 2...)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolong jangan memberikan komentar yang menyudutkan, agitasi ataupun berbau ras.. Terima Kasih. -NS-