Laziale Tak Pernah Sendiri
Waktu berjalan. Lazio tak lagi segarang dulu. Finansial goyah, pemain bintang pergi. Tapi yang mengejutkan, banyak yang tetap tinggal. Laziale bertambah, bukan berkurang. Meskipun mungkin saja telah banyak yang mendua hati, tapi kecintaan terhadap Lazio tak pernah pergi. Di bandara, stasiun, atau jalanan mana pun di Indonesia, jika bertemu seseorang dengan syal Lazio, ada senyum yang sama. Ada sapa hangat, bahkan tak jarang pertukaran nomor ponsel.
“Bro, Laziale juga ya?”
Dan obrolan panjang pun dimulai, seolah kami sudah
bersaudara sejak lama.
Bukan hal yang mudah mendapat atribut Lazio. Tak seperti di
era kejayaan, saat atribut Lazio ada dimana-mana. Kini, topi, syal, atau jersey
resmi biasanya kami pesan dari komunitas atau pesan dari kawan yang sering
membuat atribut lazio. Maka, siapa pun yang memakai atribut Lazio, sudah pasti
dia bukan fans abal-abal. Dan itu cukup jadi alasan untuk menyapa.
Kalau mau ke kota lain, cukup umumkan di grup di media
sosial. Laziale setempat akan menjemput, menemani, bahkan kadang mengantar
pulang dengan oleh-oleh. Kami bukan hanya fans klub, kami keluarga. Begitu pula
sebaliknya, jika ada Laziale yang berkunjung ke koaku, akan kuusahakan untuk
menyambut dan menemani.
Gathering jadi agenda rutin: dari yang nasional hingga
wilayah. Menjadi ajang bertemu, tertawa, nonton bareng, berbagi kisah dan
koleksi. Bukan tentang menang atau kalah, tapi soal bagaimana kita tetap setia
meski tertatih.
Dan ada satu hal yang membuat kami tetap bangga: kami tahu
rasanya menjadi bagian dari perjuangan kecil, meski bukan dominasi besar. Lazio
selalu di hati, Sang elang tak akan dibiarkan terbang sendirian. I tifosi
biancocelesti sono molto fedeli. Tu non sarai mai sola..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolong jangan memberikan komentar yang menyudutkan, agitasi ataupun berbau ras.. Terima Kasih. -NS-