https://www.histats.com

Rabu, 16 Juli 2025

"Dalam Nama Gandong: Catatan Seorang Mahasiswa di Tengah Konflik" (Bagian 3 dari 3)

 

Bagian 3 : PULANG LEWAT LUKA

Diantara Reruntuhan dan Doa yang Tak Putus

Setelah dua minggu terjebak dalam konflik, akhirnya jalur transportasi mulai terbuka. Sebagian angkutan umum berani beroperasi meski masih penuh risiko. Saya memutuskan kembali ke Rumah Tiga, desa kecil di tepi Teluk Ambon, dekat kampus Universitas Pattimura. Tempat ini yang awalnya terasa damai dan tenang, kini menyimpan misteri penuh ketidakpastian.

Masjid At-Taqwa menjadi pusat pertahanan komunitas Muslim di sana. Mungkin hanya sekitar 20-30 rumah Muslim di tengah mayoritas non-Muslim. Setiap malam, kami naik ke lantai masjid paling atas. Bukan untuk menikmati pemandangan malam Ambon yang indah, tapi untuk berjaga, memantau, mendengar, dan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Tidur pun bergantian. Yang satu tidur, yang lain berjaga dengan parang di tangan. Tak ada malam yang tenang. Ketegangan menggantung di udara.

Tak jauh dari sana, berdiri Markas Denzipur (Detasemen Zeni Tempur TNI AD). Tempat ini jadi lokasi pengungsian tercampur: Muslim dan Kristen, dalam satu gedung. Tapi ketegangan tetap terasa. Di balik tempat tidur para pengungsi yang hampir seluruhnya adalah lansia, ibu-ibu, perempuan, dan anak-anak, ada bisik-bisik saling menyalahkan.

“Mereka yang mulai...”

“Tidak, kalian yang duluan...”

Di sini, saya belajar satu hal: damai itu bukan sekadar tenang di luar, tapi juga menerima luka masing-masing. Dan luka-luka itu, ternyata dalam.

 

Ambon: Kota Pela Gandong yang Terkoyak

Dulu kami sering mendengar cerita indah tentang pela gandong. Tentang dua desa dari agama berbeda yang saling mengangkat satu sama lain sebagai saudara. Bila satu desa berduka, desa pela-nya ikut berduka. Bila satu desa menikah, desa pela-nya ikut merayakan.
Tak ada perbedaan. Tak ada batas. Karena dalam pela, Muslim dan Kristen adalah gandong—saudara kandung dari rahim berbeda.

Masyarakat di sana tumbuh dalam suasana seperti itu. Bertetangga tanpa curiga, berteman tanpa prasangka. Bahkan, dalam momen Hari Raya, warga saling berkunjung. Setiap Lebaran, rumah tetangga Kristen ikut menghias dengan ketupat dan lampu hias, demikian pula sebaliknya.

Maka saat kerusuhan pecah, saya sempat tidak percaya.

“Bagaimana bisa kita saling membakar rumah dan saling mengusir, padahal kita gandong?”

Jawabannya, barangkali, ada pada provokasi yang pelan-pelan menyusup, seperti racun dalam air. Ketimpangan ekonomi. Beredarnya rumor tentang kecemburuan pada kelompok BBM (Bugis, Buton, Makassar) yang menguasai perdagangan. Para provokator yang bergerak dengan tujuan tertentu, telah mencapai hasilnya. Dan kita, rakyat biasa, jadi korban.

Kembali terngiang lirik lagu yang sangat familiar : ”hidup ade deng kaka. Sungguh manis lawange. Ale rasa beta rasa… katong dua satu gandong”

 

Di Atas Geladak Kapal PELNI

Setelah semua itu, akhirnya saya dan ribuan orang lainnya mendapat kesempatan meninggalkan Ambon. Kapal PELNI bersandar di pelabuhan. Penuh sesak. Tangga kapal seakan tidak muat untuk menampung penumpang yang berdesakan. Bahkan, ada yang naik ke kapal melalui tali jangkar. Bergelantungan. Bau peluh dan tangis bercampur di dek kapal. Tidak semua orang mendapat tempat duduk. Banyak yang tidur di bawah, di lorong, di samping toilet. Tapi tak satu pun yang mengeluh. Kami hanya ingin selamat.

Saya berdiri di pinggir kapal, menatap Ambon yang perlahan menjauh. Kota itu tampak indah dari kejauhan. Seperti tak terjadi apa-apa. Tapi saya tahu, di balik bukit dan rumah-rumah itu, banyak luka yang belum sempat diobati.

Dan saya bertanya dalam hati:

“Apakah pela gandong akan kembali hidup? Apakah kita bisa bertetangga tanpa takut lagi?
Atau apakah kita akan terus saling curiga, hanya karena berbeda nama dan keyakinan?”

 

Penutup : Catatan Hati

Tahun 1999 adalah tahun yang tak akan saya lupakan. Bukan hanya karena saya hampir kehilangan adik perempuan saya. Bukan hanya karena saya harus tidur di jalan atau menghindari panah dan tombak. Tapi karena saya menyaksikan sendiri, betapa mudah kedamaian berubah menjadi kebencian, bila kita berhenti saling menjaga antar sesama.

Tapi saya percaya satu hal: Pela gandong belum mati. Ia hanya luka. Dan semua yang luka, bisa sembuh—asal kita mau memulainya dengan saling percaya, sekali lagi.

"Dalam Nama Gandong: Catatan Seorang Mahasiswa di Tengah Konflik" (Bagian 2 dari 3)

Bagian 2: MALAM-MALAM PENUH KHAWATIR

Kami Tidur di Jalan, Berselimut Kekhawatiran

Jalanan menuju Batu Merah terasa panjang, bukan karena jaraknya, tapi karena jantung yang berdegup kencang. Di Kebun Cengkeh, saya harus berjalan kaki. Mobil-mobil tak bisa lewat. Kerumunan orang memadati sisi jalan. Beberapa membawa tongkat. Ada juga yang memegang parang. Api masih menyala di kejauhan. Kota Ambon benar-benar sedang terbakar.

Saya tiba di tempat kos adik saya. Kosong. Lengang. Ternyata, menurut tetangga, ia sedang bersilaturahmi ke rumah paman di Halong. Saya agak lega, karena Halong berada di dekat Asrama Angkatan Laut, dan katanya, lebih aman.

Tapi malam itu, rasa aman adalah ilusi yang tipis.

Telepon rumah tak bisa digunakan. Tak ada HP seperti zaman sekarang. Komunikasi dengan keluarga, adik, dan orang tua di kampung — terputus total. Saya sendirian, terperangkap di daerah yang bergolak. Dan malam segera datang.

Malam pertama adalah malam paling panjang dalam hidup saya

Di sekitar Batu Merah, jalan diblokade. Tidak ada kendaraan yang boleh lewat. Kami tidur di jalan. Atau, lebih tepatnya: berjaga di jalan, mata terbuka setengah, telinga selalu waspada. Wilayah ini dikuasai kelompok Muslim, sementara Pasar Mardika dan sekitarnya dikuasai kelompok Kristen. Di antara keduanya, hanya ada satu jembatan yang dijaga ketat oleh aparat. Tapi rumor yang berkembang lebih menyeramkan daripada kenyataan: ini bukan konflik biasa—ini perang agama.

Jik lonceng gereja berbunyi malam-malam, adzan dikumandangkan bukan pada waktu salat. Itu semua adalah kode peringatan. Setiap kali suara itu terdengar, massa bangkit. Kami bersiap di garis batas.

Simbol-simbol agama menjadi kunci bertahan hidup. Kami membuat tanda pita di lengan dan menyusun kode tanya-jawab sebagai kata sandi. Jika seseorang tidak bisa menjawab dengan benar, maka ia dianggap penyusup. Tak jarang berakhir tragis.

Saya sempat berjaga di rumah warga dekat gereja. Tak ada tidur nyenyak. Yang kami punya hanya parang dan tiang bambu. Makanan terbatas. Air pun mulai langka. Tapi kami bertahan. Bertahan bukan hanya demi hidup, tapi demi sesama yang tertinggal.

Sekitar seminggu kemudian, saya diminta menemani seorang teman ke rumahnya. Ia ingin menyelamatkan ijazah dan barang-barang penting, karena saat kerusuhan terjadi, ia sedang berada di luar dan tak bisa kembali ke rumah.

Kami masuk ke sebuah gang yang dalam. Di kiri-kanan, pintu rumah mulai terbuka. Anak-anak muda berdiri di depan, bertanya:

“Agama kamu apa?”

Jantung saya hampir copot. Tak bisa bohong. Kami menjawab jujur: “Kami Muslim.”

Mereka menatap tajam. Sebagian mulai menggenggam tombak, panah, dan parang. Saya mengintip ke arah jalan raya, tempat tentara marinir berjaga. Tapi jaraknya terlalu jauh. Jika sesuatu terjadi, saya tak bisa lari secepat itu.

Untungnya, seorang ibu paruh baya muncul. Dengan suara lantang ia berteriak:

“Beta tau orang ini! Sudah, cepat pergi keluar, jangan ada yang ganggu!”

Ia seperti pelindung malaikat yang dikirim tepat waktu. Kami segera diminta keluar dari gang, kembali ke jalan utama. Nyawa kami terselamatkan oleh keberanian seorang ibu. Tanda bahwa nurani tetap ada di tengah konflik. Dan, ini adalah gambaran nurani mayoritas masyarakat Ambon yang cinta damai. 

Isu BBM mulai berhembus keras

Bukan Bahan Bakar Minyak, tapi Bugis, Buton, dan Makassar—kelompok perantau yang selama ini mendominasi sektor ekonomi, khususnya perdagangan di Pasar Mardika. Ditengarai ada kecemburuan sosial. Ada ketimpangan. Ada nada-nada ketidakpuasan yang diam-diam mengendap, lalu meledak saat suasana reformasi membuka celah-celah ketegangan lama.

Sebagian mengatakan: ini perang ekonomi yang dibungkus dengan baju agama.

Dan kami—mahasiswa, pedagang kecil, warga biasa—terjebak di tengahnya.


Ambon, Nirwana di Ujung Timur (Bagian 1 dari 2)

"Hidup ade deng kaka, sungguh manis lawange. Ale rasa, beta rasa… katong dua satu gandong." Lagu itu seperti doa yang mengalun di sudut hati siapa saja yang pernah menginjakkan kaki di Ambon. Sebuah kota kecil di timur Indonesia yang dulu terasa seperti nirwana yang jatuh dari langit, terhampar indah di antara teluk dan jazirah. 

Saya datang ke Ambon tahun 1995, diterima di Fakultas Pertanian Universitas Pattimura, jurusan Manajemen Hutan. Tak pernah menyangka, kota ini akan begitu melekat di hati—bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kehangatan manusianya. 

Nirwana Bernama Ambon Bayangkan sebuah tempat yang dikecup angin laut dari pagi hingga malam, dengan matahari yang menyinari pasir putih lembut di pantai-pantai seperti Liang dan Natsepa. Pulau-pulau kecil di sekitar Ambon seperti serpihan zamrud yang dilempar dewa ke laut biru. Air lautnya sebening kaca, dan jika kau menyelam, kau bisa melihat tarian ikan-ikan warna-warni di karang yang sehat dan cantik. 

Ambon adalah surga. Teluknya memeluk kota dengan cinta. Dari Rumah Tiga tempat saya bertumbuh, hingga ke pusat kota, terbentang pemandangan laut yang tak pernah membosankan. Kami biasa menyeberangi Teluk Ambon menggunakan fery atau perahu dayung kecil. Setiap kali menyebrang, selalu ada hembusan angin asin yang menyapa, seolah mengucap: "Selamat datang di tanah damai." 

Pela Gandong: Tali Kasih Tanpa Putus Di kota ini, saya belajar satu nilai yang begitu dalam: Pela Gandong. Sebuah ikatan persaudaraan yang tidak dibentuk oleh darah, tapi oleh sejarah dan cinta. Pela berarti perjanjian, dan Gandong adalah saudara. Ikatan ini menjadikan desa-desa muslim dan kristen bersaudara secara adat, saling melindungi, dan bahkan turut berduka jika salah satunya tertimpa musibah. Jika satu desa sedang berduka, gandong-nya pun turut menangis. Jika satu desa sedang berpesta, gandong-nya pun ikut menari. Begitu kuatnya nilai ini, hingga membuat Ambon menjadi kota dengan toleransi tinggi. Gereja Maranatha berdiri megah, tak jauh dari Masjid Raya Al-Fatah. Saling menghormati, saling menjaga, dan hidup berdampingan dalam damai. 

Miniatur Indonesia yang Penuh Warna Di Ambon, saya menemukan suasana kekeluargaan yang tulus. Wajah-wajah keras dan tegas, suara keras dan tinggi—yang mungkin jika didengar di tempat lain terasa menantang—di sini justru hangat. Mereka menyapa dengan canda, bahkan kadang dengan cacian yang bermakna akrab. Tak ada yang marah, karena di balik suara keras itu ada hati yang lembut dan penuh kasih. Ambon adalah miniatur Indonesia. Dari Bugis, Buton, Makassar, Jawa, Sumatera, sampai Papua—semua hidup bersama, makan bersama, dan tertawa bersama. Hidangan ikan segar adalah makanan harian. Apalagi kalau sudah bertemu dengan sambal kenari atau dabu-dabu, dijamin lidahmu tak ingin pulang. 

Gairah Kota yang Hidup Tahun-tahun antara 1995 hingga 2000 saat bertumbuh di kota ini, Ambon yang saya kenal sebagai kota dagang. Pasar Mardika adalah nadi ekonomi, di mana suara tawar menawar seperti musik harian. Di sekitarnya berdiri Ambon Plaza, pusat belanja modern saat itu. Taman Victoria menjadi tempat nongkrong anak muda dan keluarga. Pelabuhan Ambon sibuk dengan kapal dan aktivitas bongkar muat dari seluruh penjuru Maluku. Perdagangan rempah-rempah seperti cengkeh dan pala dari pulau-pulau sekitarnya menjadi denyut ekonomi kota ini. 

Dan tentu saja, Universitas Pattimura, kampus megah penuh kenangan. Saya menghabiskan waktu belajar di sana, di bawah pohon besar yang rindang, ditemani kicau burung dan hembusan angin. Gedung Rektorat menjadi saksi saat antri registrasi setiap perubahan semester, dari pagi hingga sore. Lorong-lorong gedung perkuliahan, menjadi saksi duduk lesehan menunggu jam perkuliahan, sambil saling melempar canda. Menjadi saksi tawa, perjuangan, cinta diam-diam, dan persahabatan yang masih terjaga sampai kini. 

Meski Pernah Terkoyak, Ambon Tetap Cinta Tentu, seperti cinta yang diuji, Ambon pernah terluka. Pernah dikhianati oleh kabut kebencian dan bara provokasi. Namun luka itu tidak menghapus cinta. Karena cinta sejati selalu menemukan jalan pulang. Kini, Ambon tetaplah Ambon. Kota yang tetap dirindukan, dengan sejuta kenangan yang mengharum dari waktu ke waktu. Tempat di mana hidup pernah terasa begitu lengkap. Tempat yang mengajarkan saya arti persaudaraan, keberagaman, dan kerinduan akan damai. 

 Dan setiap kali saya mendengar lagu itu dinyanyikan… "Ale rasa, beta rasa… katong dua satu gandong…" …air mata saya mungkin tak jatuh, tapi hati saya selalu bergetar. Jika kamu pernah mencintai sebuah kota, dan kota itu adalah Ambon, maka kamu tahu: sebagian jiwamu akan selalu tinggal di sana.

"Dalam Nama Gandong: Catatan Seorang Mahasiswa di Tengah Konflik" (Bagian 1 dari 3)

Bagian 1 : HARI ITU LANGIT TERBELAH DI TELUK AMBON


Hari Itu Langit Terbelah di Teluk Ambon Lebaran 1999 seharusnya menjadi momen manis. Saya dan beberapa teman kuliah di Universitas Pattimura sudah merancang rencana kecil: liburan ke desa teman kami di Kairatu, sebuah kawasan tenang di Seram Barat. Kami akan berangkat menggunakan kapal kecil dari Teluk Ambon. Kabarnya, air di sana jernih, orang-orangnya ramah, dan udaranya membawa damai. Tapi takdir memutuskan lain. 

Entah kenapa, pagi itu rencana kami batal. Sekadar perubahan kecil? Sepertinya tidak. Sebab siangnya, saat saya berdiri di dekat pasar di tepi pantai Desa Rumah Tiga, saya menyaksikan pemandangan yang akan tertanam selamanya dalam ingatan saya. 

Asap. 
Hitam, tebal, menggulung tinggi dari arah pusat Kota Ambon. Ambon berbentuk seperti mangkuk raksasa. Dari Teluk Baguala ke pusat kota, hanya udara dan cakrawala yang membatasi. Dan asap itu... bukan asap biasa. 

Naluri saya langsung bekerja. 
"Ini bukan kebakaran biasa," batin saya. Terlalu besar, terlalu pekat, dan sebelumnya... terlalu banyak desas-desus. Tentang konflik. Tentang ketegangan pasca-Reformasi. Tentang luka lama yang entah kapan mulai membusuk.

Padahal, Ambon adalah rumah bagi persaudaraan yang sangat luhur: Pela Gandong. Sebuah sistem kekerabatan antardesa di Maluku yang menyatukan desa-desa Muslim dan Kristen sebagai "saudara kandung". Tradisi ini tidak mengenal batas agama. Jika satu desa berduka, desa gandong-nya ikut berduka. Jika satu desa diserang, gandong-nya datang membela. Tradisi Pela Gandong menjadi pilar toleransi Maluku. Kami tumbuh mengenalnya, menjalaninya, bahkan merayakannya. 

Tapi mungkin kami juga lengah... dan mulai termakan oleh racun provokasi yang pelan-pelan menyusup. 

Yang pertama kali terlintas di benak saya adalah adik perempuan saya. Ia bekerja di toko milik paman di daerah Batu Merah, dekat Pasar Mardika—salah satu titik paling rawan jika benar-benar terjadi kerusuhan. 

Saya langsung bergegas. 
Menyebrangi Teluk Ambon bukan dengan kapal feri, tapi perahu dayung kecil yang biasa digunakan warga. Ketika mendarat di daerah bernama Galala, saya mulai merasakan kepanikan. Jalanan padat. Orang berlari. Wajah-wajah bingung dan takut. Melewati daerah Tantui, menuju daerah Kebun Cengkeh, jalan benar-benar lumpuh. Saya harus berjalan kaki. 

Dan di situlah... saya tahu: Ambon terbakar.  

(berlanjut ke Bagian 2...)

Kamis, 03 Desember 2015

LIHAT POTENSI, LUPAKAN KONFLIK


LIHAT POTENSI, LUPAKAN KONFLIKKemitraan – Kawal Borneo CF. Kampung Muara Tae dan Muara Ponak di Kabupaten Kutai Barat...
Posted by Salim Laziale Sirahmad on Thursday, December 3, 2015

Rabu, 25 Maret 2015

MEMANUSIAKAN MANUSIA..



Banyak kisah terungkap saat pelatihan fasilitator yang diselenggarakan oleh Kemitraan melalui Program Peduli. Pelatihan yang dilakukan mulai tanggal 16 s/d 23 Maret 2015 di Purwokerto dan diikuti oleh puluhan fasilitator peduli dari berbagai provinsi di Indonesia, mengangkat isu pendampingan komunitas adat dan suku asli yang terpinggirkan, terabaikan, diskriminatif dan ter-ekslusi.

Masih banyak stigma buruk yang berkembang di masyarakat tentang komunitas terpinggirkan, terutama komunitas suku adat. Anggapan bahwa mereka jorok, bodoh, terbelakang, membuat komunitas ini cenderung tidak mendapat tempat di tengah masyarakat. Cemoohan dan hinaan kerapkali menerpa mereka.

Hal itu pula yang terjadi terhadap Suku Anak Dalam alias Suku Rimba di Sumatra. Mereka hidup nomaden dalam rimba, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Hal ini dilakukan jika ada anggota dalam satu “rombong” ada yang meninggal dunia. Perpindahan ini mereka sebut sebagai “melangun”.

Keluarga Suku Anak Dalam tinggal berdesakan dalam sebuah “rumah” sangat sederhana dengan beratapkan tenda, tanpa dinding. Tua dan muda, laki-laki dan perempuan, berkumpul menjadi satu dalam rumah tersebut. Sungguh, tempat tinggal yang sangat tidak layak untuk disebut sebagai rumah.

Syamri, fasilitator Lembaga Pundi Sumatra yang mendampingi Suku Anak Rimba di Jambi mengatakan bahwa kehidupan mereka sangat memprihatinkan. “Jika kelompok Anak Rimba melewati sebuah kampung, penduduk setempat akan menutup hidung dan mencemooh mereka”, ujarnya.

Begitu pula kisah yang diungkapkan oleh Haris, rekan Syamri di Pundi Sumatra. Haris bahkan menitikkan air mata saat live in di tempat tinggal Suku Anak Dalam. “Pernah suatu waktu anak dari Suku Rimba sakit. Sang Ibu hanya bisa menyanyikan lagu untuk menghibur anaknya, yang baru bisa dibawa ke Puskesmas terdekat keesokan harinya”, ujarnya. 

Haris menambahkan bahwa pernah suatu ketika anggota komunitas Suku Anak Dalam mengalami sakit. Oleh pihak puskesmas setempat, anggota keluarga Suku Anak Dalam yang menderita sakit tersebut ditempatkan di sebuah ruangan gudang dengan alasan ruang perawatan  penuh. Sebuah perlakuan yang sangat menyayat hati bagi siapapun yang melihatnya.

Terlepas dari kelas sosial yang mereka miliki, Suku Anak Dalam juga adalah Manusia. Mereka bagian dari Republik ini. Mereka juga layak mendapatkan perlakuan yang sama layaknya manusia lain di negri tercinta ini. Menyakiti mereka, berarti menyakiti negri ini. Mereka adalah manusia, sama dengan rakyat Indonesia umumnya, yang wajib mendapatkan hak-hak dasar mereka..

Tapi mereka tidak sendirian. Selalu ada orang-orang hebat, yang bersedia membantu mengangkat martabat mereka. Salah satunya dengan program pendampingan yang dilakukan oleh Pundi Sumatra melalui Program Peduli. Saatnya “memanusiakan manusia”.
#IDIinklusif


Senin, 14 April 2014

SEMANGAT DARI SELATAN



“Bu, ada undangan dari PT Badak untuk mengirimkan dua orang perwakilan kelompok mengikuti pelatihan”
 “Sebentar pak, kami harus rapat dulu malam ini”.
“Tapi sekarang kan sudah lumayan malam, Bu”
“Sudah menjadi kesepakatan kelompok kami bahwa setiap keputusan yang diambil harus melalui rapat”
“Meski malam-malam begini? Apa anggota tidak merasa keberatan?”
Nggak, anggota kelompok siap hadir tiap pertemuan, meski malam hari”.

Kutatap jam dinding. (Maklum, nggak pernah memakai jam tangan, hehehe). Arah jarum panjang di angka 12 dan jarum pendek di angka 9. Pukul 21.00 Wita.

Beberapa saat kemudian kembali ponselku berdering. “Apakah boleh saya mengirim semua anggota”? Tanya Ibu Hapsiah di ujung sana, menunjukkan spirit yang tinggi untuk mengikuti kegiatan.
“Tapi undangannya hanya untuk dua orang, Bu”, jawabku

Itulah kutipan pembicaraanku via ponsel dengan dengan Ibu Hapsiah, Ketua Kelompok Karya Bersama Lok Tunggul. Kelompok dampingan KBCF di Kota Bontang yang selalu memperlihatkan semangat yang tinggi. Di tengah segala keterbatasan, tidak menyurutkan semangat berkelompok mereka. Aturan main telah dibuat. Dan, setiap anggota kelompok mempunyai kewajiban untuk menjalankan kesepakatan itu.

Lok Tunggul. Sebuah wilayah yang terletak di Selatan Kota Bontang. Untuk menjangkaunya butuh sedikit perjuangan. Melewati jalan tanah yang berlumpur dan licin saat hujan. Butuh perjuangan ekstra menggunakan sepeda motor. Jika hujan turun dengan deras, perjalanan menuju kesana menjadi “mengasyikkan”, ibarat pembalap off road. Jembatan ulin panjang menghubungkan kampung ini dengan wilayah Teluk Kadere sehingga memungkinkan untuk dijangkau dengan perjalanan darat. Sebelum tahun 2013, satu-satunya akses menuju ke kampung Lok Tunggul menggunakan alat transportasi laut.

Alternatif lain untuk menjangkau daerah ini melalui laut. Dengan menggunakan perahu ketinting, daerah ini bisa dicapai kurang lebih 45 menit dari pelabuhan Tanjung Laut Indah Bontang. Laut tidak selalu bersahabat. Kadang tenang, kadang gelombang datang menghempas ketinting.

Sulitnya akses tidak menurunkan semangat anggota kelompok yang semuanya adalah kaum perempuan. Jika ada undangan, pagi-pagi sekali mereka telah berangkat menggunakan ketinting. Saat gelombang datang, mereka pun harus berjuang melawan rasa khawatir. Tanpa jaket pelindung, tanpa alat penolong keselamatan. Semua serba natural. Mungkin karena telah terbiasa, membuat segala jenis perlengkapan tersebut menjadi “tidak berarti”.

Semangat seperti itu terus tumbuh seiring kegiatan pendampingan yang dilakukan KBCF. Seolah-olah menemukan dunia baru dengan keasyikannya tersendiri, setelah sekian lama hanya berkutat pada kegiatan rutin di urusan domestik rumah tangga. Spirit yang ingin menunjukkan bahwa kaum ibu-ibu juga bisa melakukan kegiatan bermanfaat, bisa membangun jaringan dengan pihak luar, mampu beradaptasi dengan lingkungan luar, serta mempunyai kesempatan yang sama untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mereka, bisa belajar membagi waktu antara urusan keluarga dengan urusan luar.

Kegiatan pendampingan telah memberikan manfaat signifikan bagi kelompok ibu-ibu. Bahwa, kemampuan menjalin kerjasama dan kemitraan dengan dunia luar bukan hanya milik laki-laki. Bahwa kaum perempuan juga bisa melakukan hal-hal yang selama ini hanya dilakukan oleh laki-laki di kampungnya. Bahwa kaum perempuan pun mempunyai kesempatan didengarkan suaranya, ikut terlibat dalam urusan pembangunan di kampungnya, yang selama ini meraka hanya menjadi penonton saja.

Lebih dari itu, kaum perempuan adalah guru pertama dan utama bagi anak-anaknya. Meningkatnya kemampuan mereka, akan menular kepada anak-anaknya. Kaum ibu lah yang lebih sering bersama dan mengajarkan nilai-nilai serta pengetahuan kepada anak-anaknya.

“Pengetahuan kami menjadi meningkat dengan mengikuti kegiatan-kegiatan pendampingan. Kepercayaan diri kami pun ikut meningkat. Suara kami menjadi lebih didengarkan. Jika ada pertemuan di kampung, kaum perempuan khususnya yang terlibat dalam kelompok, seringkali mendapat undangan untuk ikut memberikan pendapat. Peristiwa yang hampir tak pernah terjadi di waktu-waktu yang lalu”, pungkas ibu Hapsiah.

Kegiatan pendampingan, sejatinya adalah meningkatkan kemampuan dan pemahaman kelompok-kelompok yang suaranya hampir tidak didengarkan di dalam komunitasnya. Menularkan virus optimisme dan kepercayaan diri, bukan untuk lebih tinggi dibandingkan laki-laki, tapi agar terjadi keseimbangan peran dalam sebuah komunitas. Laki-laki dan perempuan mempunyai kesempatan dan kemampuan yang sama. Pendampingan yang dilakukan telah memperlihatkan hal itu.  (ns)

Lok Tunggul, semangat yang tak pernah padam…

Reshuffle ala Salantuko



RESHUFFLE ala SALANTUKO

Masih ingatkah dengan peristiwa pemakzulan Bupati Garut, Aceng Fikri? Seorang kepala daerah yang dianggap melakukan tindakan kurang pantas sebagai seorang pejabat publik. Anggota DPRD Garut sepakat untuk melakukan pemakzulan yang berakhir pada dicopotnya jabatan Sang Bupati. 

Pada versi lain, pemakzulan juga terjadi di pesisir Selatan Kota Bontang. Lebih tepatnya adalah re-organisasi. Kelompok Bunga Laut, salah satu kelompok dampingan KBCF di daerah Salantuko, mengadakan perombakan kabinet. Pengurus lama diganti. Alasannya adalah karena pengurus lama tidak fokus lagi mengurus kelompok. Ketua dan bendahara pindah domisili ke Sulawesi. Kekosongan pengurus dikhawatirkan berdampak terganggunya kegiatan kelompok.
Salantuko, daerah dalam wilayah Kelurahan Bontang Lestari ini terkena proyek pembangunan pembangkit listrik. Sebagian warganya akan di-relokasi. Kondisi ini yang kemudian membuat banyak warga, termasuk pengurus kelompok, bersiap-siap meninggalkan Salantuko. Dampaknya adalah kelompok Bunga Laut terlantar, bagai ayam kehilangan induk. Anggota kelompok kemudian berinisiatif melakukan perubahan pengurus. 

Awal Mei 2013, terbentuklah kepengurusan baru. Suburia, yang sebelumnya menjabat sebagai sekretaris, “naik pangkat” menjadi ketua kelompok. Ketua yang baru ini masih sangat muda, belum genap 20 tahun. Marisa, terpilih sebagai sekretaris. Usia sekretaris pun sebaya dengan ketua. Jadilah kelompok Bunga Laut dinahkodai oleh anak-anak muda. 

Kisah Unik Sang Nahkoda Baru
Suburia, secara resmi terpilih menjadi ketua kelompok yang baru. Terpilihnya Suburia karena dianggap mampu menjalankan roda organisasi kelompok, yang sebelumnya telah mempunyai pengalaman sebagai sekretaris. Ibu muda ini juga dianggap lebih fleksibel dan lebih cair dalam menjalin komunikasi dengan pihak luar. Suaminya pun mendukung kegiatannya, dengan setia menjadi “ojek” pribadi mengantar istrinya menghadiri berbagai kegiatan. 

Namun, ada sekelumit kisah unik tentang ketua baru ini. Menurut kisah yang dituturkan oleh fasilitator KBCF, bahwa pada saat awal masuknya pendampingan di Salantuko, Suburia belum bergabung dengan kelompok. Dia hanyalah seorang anak muda yang masih lugu. Pada saat pertemuan di Masjid Salantuko, Suburia dengan malu-malu hanya mengintip jalannya pertemuan dari balik jendela masjid. Mungkin rasa ingin tahunya menggerakkan untuk ikut mencuri dengan diskusi ibu-ibu di masjid tersebut. Saat diminta untuk masuk mengikuti pertemuan, dia justru kabur karena malu.

Pada saat kegiatan pendampingan berlangsung intensif, Suburia bergabung dengan kelompok. Jabatan sekretaris diembannya. Rupanya ibu muda ini adalah sosok yang cepat belajar dan beradaptasi. Ia mengikuti berbagai kegiatan kelompok, yang membuat pemahamannya bertambah. Hal inilah yang mengantarkannya menjadi pemimpin dalam kelompok Bunga Laut.

Jabatan ketua kelompok mungkin bukanlah jabatan yang wah bagi kebanyakan orang. Tapi bagi komunitas kecil dan jauh dari pusat keramaian seperti di Salantuko, menjadi ketua kelompok mempunyai prestise tersendiri, sekaligus beban yang tidak ringan. Ketua kelompok harus mampu menjadi wakil bagi kepentingan anggotannya. Ketua kelompok harus rela menjadi tempat curhat atas segala permasalahan yang terjadi di kelompoknya. Ketua kelompok menjadi pengambil keputusan terakhir. Gap pemahaman yang begitu jauh dengan anggota kelompok, membuatnya menjadi sosok yang diandalkan untuk mewakili kepentingan kelompoknya. Bukan tugas yang mudah, apalagi melihat usianya yang masih muda. Ternyata, kepemimpinan tidak selalu berbanding lurus dengan usia.  (ns)

  

Kamis, 25 April 2013

ADA SAATNYA PERJALANAN TERHENTI




Ini adalah kali kedua aku meginjakkan kaki ke Bumi Buen Kesong, Tanah Grogot Kabupaten Paser. Tak ada yang berubah dari daerah yang serba ungu ini. Semua tampak normal dan biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa. Perjalanan kali ini untuk melihat kembali persiapan pembentukkan bank sampah, sekaligus silaturrahmi dengan para pengurusnya.

Hal menarik dan berkesan justru terjadi pada saat perjalanan pulang dari Grogot menuju Penajam. Kami memilih untuk menggunakan angkutan umum. Awalnya dalam mobil tersebut hanya kami berdua yang menjadi penumpang. Aku tiduran saja menikmati perjalanan. Memasuki daerah Kecamatan Kuaro, naiklah tiga orang penumpang. Dua orang gadis muda duduk di depan, dan seorang tua duduk di belakang. Setelah kedua gadis tersebut turun, si orang tua yang rambutnya telah memutih dan memakai kopiah hitam pindah duduk di depan, di samping sopir.

“Terkadang anak-anak itu aneh ya pak”, kata si orang tua berkopiah mengawali percakapan. “perjalanan dari Balikpapan menuju ke sini tetntu saja jauh dan berat bagi orang tua seperti kita. Seharusnya anak yang datang berkunjung, bukan kita”, lanjutnya. Rupanya si orang tua datang ke Kuaro untuk mengunjungi anaknya.

Si sopir hanya menjawab singkat,”mungkin anak bapak banyak kesibukan. Usia bapak berapa?”
“Saya  sudah lebih dari 60 tahun”, jawab si bapak berkopiah.
“kalau begitu Saya lebih tua. Saya sudah 73 tahun”, kata si sopir.
Si bapak berkopiah terkejut. Aku pun terkejut. Tujuh puluh tiga tahun? Luar biasa! Tentu saja bukan usia yang ideal untuk masih menjalani profesi sebagai sopir. Jarak Penajam sampai ke Tanah Grogot memakan waktu tiga hingga empat jam. 

Penasaran, si bapak berkopiah bertanya, ”apa rahasianya hingga bapak masih tetap kuat menjadi sopir di usia setua ini?” si bapak melanjutkan, “meski usia saya telah cukup lanjut, tapi sangat sedikit memiliki pengalaman hidup”

“banyak orang yang lebih muda dari Saya tapi sudah tidak bisa bekerja. nikmati hidup apa adanya, tetap tersenyum, syukuri apa yang ada”, kiat si sopir tua.
Kiat sederhana dan masuk akal. Si bapak sopir tua menjadi bukti nyata kiat tersebut.

Semakin lama obrolan makin asyik. Aku yang semula terserang kantuk menjadi terjaga dan lebih segar. Guyon khas orang tua terus mengalir, dengan sesekali mengurai nostalgia masa lalu. Mulai dari kehidupan saat remaja yang menggelitik, kondisi daerah penajam dan sekitarnya pada waktu lampau, bahkan hingga mengarah kepada kondisi politik terkini bangsa ini. Si sopir terkadang melirik kami di belakang, dan sesekali meminta pendapat atau pandangan dari kami yang lebih muda. Kami hanya mengiyakan saj tanpa mendebat untuk membuat percakapan terus menarik. Orang tua berambut putih yang berada di samping si sopir terus bertanya, bahkan cenderung agak ”provokatif”. Perpaduan yang komplit, si bapak berkopiah terus bertanya tentang pengalaman hidup, dan si sopir tua menjawab dengan penuh semangat, yang terkadang ditingkahi guyon yang membuat seisi mobil tertawa terpingkal-pingkal.

Meski hanya sopir, ternyata si orang tua yang memiliki banyak anak ini sukses menyekolahkan semua anaknya. Istrinya dibuatkan usaha untuk mencukupi kebutuhan hidup. Usaha rental mobil. Secara ekonomi, kehidupan pak sopir ini lebih dari cukup. Anak-anaknya memintanya untuk berhenti menjadi sopir. Tetapi harga dirinya mengatakan lain. Ia ingin terus bekerja hingga pada saatnya nanti waktu juga yang akan menghentikannya.

”Ada saatnya aku akan berhenti bekerja. Tenagaku tak akan selamanya kuat. Jika saat itu tiba, maka aku akan berhenti. Tak ada yang bisa melawan takdir. Setiap orang akan terus bertambah menjadi tua, bukan sebaliknya. Apa yang aku kerjakan saat ini untuk memberikan contoh kepada anak-anakku bahwa hidup itu harus tetap diperjuangkan. Harus tetap diisi dengan kerja dan kegiatan positif”, ucapnya panjang lebar saat ditanya mengapa masih tetap bekerja di usia setua itu.

Ia menambahkan, ”menurut nabi, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Memberi lebih baik dari pada meminta. Meski anak-anak memberi dengan ikhlas, tetapi hati kecilku yang tidak bisa menerima. Itu bukan pelajaran yang baik bagi anak-anak. Aku melakukannya untuk menjadi pegangan bagi mereka agar nanti jika mereka sudah tua masih tetap memegang prinsip hidup seperti yang aku jalani. Jangan menggantungkan hidup pada orang lain, meski pada anak sendiri. Kecuali jika kita sudah benar-benar tidak mampu”.  

Obrolan pun berubah arah. Kali ini tentang kehidupan si sopir tua yang ternyata mempunyai 3 orang istri. Si bapak berkopiah semakin penasaran dengan meminta ”resep” apa yang membuat si sopir mempunyai daya tarik tersendiri. Pak sopir tidak terpancing. Ia hanya menjawab diplomatis, bahwa ada amalan yang harus dipakai. Bahwa kehidupan telah ada yang mengatur. Rezeki, jodoh, hidup dan mati sudah ada yang mengatur. Kita tinggal berusaha semaksimal mungkin untuk meraihnya. Dan, harapan di bapak berkopiah untuk mendapatkan bocoran amalan tentang rahasia beristri banyak, tidak kesampaian meski berkali-kali memancing dengan berbagai pertanyaan. Hal ini membuat aku tersenyum geli melihat ekspressi kecewa dari si bapak meski telah berusaha dengan berbagai cara. Terkadang, meski topik telah berpindah, si bapak masih juga kembali pada topik ”amalan” tadi.

Amalan yang selalu diterapkan adalah sholawat nabi dan doa-doa agar diberi keselamatan. Selama puluhan tahun menjadi sopir, belum pernah ada kecelakaan yang menimpanya. Ia sering mengambil penumpang, bahkan yang tidak mempunyai uang sekalipun, dianggapnya sebagai sedekah. Katanya, ada penumpang yang saat turun dari mobil hanya membayar dengan ucapan ”terima kasih”. Ia pun tidak ikut antri di terminal untuk menunggu penumpang. Menurutnya, rezeki ada di sepanjang jalan. Dan benar saja, mobil yang semula kosong saat dari Grogot, menjadi penuh dengan penumpang saat dalam perjalanan. Belakangan diketahui, ternyata si sopir sudah menunaikan ibadah haji. Mobil yang aku tumpangi juga ternyata milik sendiri sehingga tidak perlu terlalu ngotot mengejar setoran.

Perjalanan ini menyadarkan bahwa pengalaman, hikmah, kebijaksanaan, dapat diperoleh di mana saja, termasuk di angkutan umum sekalipun. Hikmah bisa diperoleh dari siapa saja, bahkan dari seorang sopir tua sekalipun.

Efek dari obrolan yang mengasyikkan itu adalah perjalanan menjadi lebih lambat. Laju mobil yang kami tumpangi pun semakin lambat, seolah ikut meresapi perbincangan yang mengalir asyik. Meski awalnya aku agak kesal karena jarak tempuh menjadi lebih lama, tetapi akhirnya ikut hanyut mendengarkan percakapan kedua orang tua tersebut. Percakapan yang penuh hikmah dan mengocok perut kami. Hitung-hitung, ini juga kesempatan untuk menimba kebijakan dan pengalaman hidup dari orang tua.

Seperti kata pak sopir tua bahwa ”ada saatnya perjalanan terhenti”, pada akhirnya perjalanan kami benar-benar terhenti di pelabuhan feri Penajam yang ditempuh dengan perjalanan lebih dari waktu normal, 6 jam. Wow....

Hikmah yang terserak di sepanjang perjalanan
~Terima kasih Pak Sopir Tua atas sharing pengalaman hidup~


~NS~





SAYA LAZIALE (Bagian 3 dari 3)

  Elang Tidak Butuh Kerumunan Cinta itu tumbuh makin dalam ketika Lazio diasuh oleh Simone Inzaghi—mantan pemain, legenda, dan Laziale sej...